Hadirilah Kajian Tafsir Hadis Setiap Kamis Malam Seusai Solat Magrib, Kajian Keluarga Sakinah Setiap Hari Ahad Mulai Pk. 10.00 WIB, Kajian Kitab Kuning Setiap Hari Senin Bakda Ashar, Semua Acara dilaksanakan di Masjid Raya Batam Centre
Sudut Masjid
Selayang Pandang
Program Kegiatan
Kegiatan
Mauizhah
Konsultasi
Hubungi Kami
Foto Kegiatan
Tamu Kita
Informasi
Jadwal Shalat
Subuh 04:42
Fajar 05:55
Dzuhur 12:03
Ashar 15:10
Maghrib 18:07
Isya 19:16
PDF Print E-mail
Cinta Sejati Oleh: Jaafar Usman Al-Qari

Sesungguhnya, logika “menjadi baik” bermakna: seseorang harus menata pesona dirinya, membangun moralitas peribadinya agar orang lain selalu merasa enak dan pas untuk hidup bersamanya. Inilah semangat muhaasabah (internal control) yang terbangun berdasarkan kesadaran keberagamaan yang tulus dan manusiawi, sebagaimana tercermin dalam sebuah ungkapan: “Hitung-hitunglah dirimu sebelum kamu berani menghitung orang lain” (Haasibuu qabla antuhaasabu).

Al-Qur'an sebagai petunjuk tertinggi dan paling sempurna yang diberikan Allah Swt. kepada manusia dan jin. Yang turunnya merupakan episode akhir dari silsilah turunnya kitab-kitab Allah Swt. kepada manusia. mengamandemen kitab terdahulu - seperti Zabur, Taurat dan Injil - untuk memenuhi kebutuhan manusia yang terus berkembang dan menyelesaikan problema pemikiran yang terus maju. Al-Qur'an turun sebagai kitab penutup setelah tahap pemikiran manusia telah cukup matang untuk memahaminya dan merangsangnya agar berupaya maksimal mencapai kesempurnaan. Hidup didunia ini merupakan ujian terhadap manusia yang akan menentukan nilai bagi setiap diri untuk ditempatkan pada golongan yang baik atau jahat diakhirat nanti yang bertitik tolak pada ayat QS. 51:56. Pada hari kehancuran total itu oleh al-Qur'an dinamakan sa'ah, yaitu waktu penutupan kehidupan massal yang ditentukan Allah, tak seorangpun yang dapat mengetahui kapan waktu pastinya, sebagai satu pengujian kepada setiap diri mengenai Iman dan Ilmunya.

Sebagai orang yang mengaku beriman, perlu kita sadari bahwa dalam kehidupan di dunia ini, kita tidak bisa lepas dari orang lain sebagai makhluk social. Di samping itu, bimbingan Tuhan yang memberi akal pikiran pada kita, untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk harus diletakkan pada posisi terdepan sebagai hudan atau petunjuk (lihat QS. 2:1; 31:3 dll).

Orang yang beriman mestinya memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesamanya yang di bangun melalui pelatihan emosi yang berlandaskan ajaran agama. Orang yang beriman adalah orang yang bisa memberi manfaat baik bagi dirinya sendiri, keluarganya, maupun bagi orang lain. Sabda Rasulullah Saw: ,”Khairun naas man ‘amfa’ahum lin naas”. Jadi orang yang beriman adalah orang yang selalu memberi manfaat pada dirinya dan orang lain.

Kasih sayang, sangat erat hubungannya dengan iman dan selalu disinonoimkan dengan kata cinta yang  merupakan perasaan halus yang dimiliki hati setiap manusia, dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap individu pasti akan merasakan cinta dan mencintai sesuatu. Dalam Islam, cinta merupakan masalah utama dalam kehidupan dunia dan akhirat. Karena Islam sendiri merupakan agama yang berasaskan cinta. Sabda Rasullulah SAW.: “Tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang maka ia akan mendapat manisnya iman, yakni: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lain; mencintai seseorang hanya karena Allah, dan benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka”(HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itulah Islam menyeru agar menghangatkan cintakasih, yaitu cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah, cinta kepada agama, cinta kepada aqidah, juga cinta kepada sesama makhluk, sebagaimana Allah menjadikan perasaan cinta antara suami istri sebagai sebagian tanda dan bukti kekuasaan-Nya, firman Allah SWT: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar-Ruum: 21).

Jelaslah bahwa cinta adalah tanda kehidupan rohani dalam aqidah orang mukmin, seperti halnya cinta juga menjadi dasar dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Selain itu, iman dalam Islam ditegakkan berdasarkan cinta dan kasih sayang, sebagaimana terlukis indah dalam sabda Rasulullah SAW : “Demi Dzat yang diriku ada di tanganNya, kamu tidak akan masuk syurga sehingga kamu beriman, dan kamu tidak akan beriman dengan sempurna hingga kamu saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim). Hadits diatas menegaskan bahwa jalan menuju ke syurga bergantung kepada iman, dan iman bergantung kepada cinta. Maka cinta adalah syarat dalam iman, rukun dalam aqidah, dan asas dalam agama.

Cinta dalam Islam adalah kaidah dan sistem yang mempunyai batas. Ia adalah penunjuk ke arah mendidik jiwa, membersihkan akhlaq serta mencegah atau melindungi diri daripada dosa-dosa. Cinta dapat membimbing jiwa agar bersinar cemerlang, penuh dengan perasaan cinta dan dicintai. Sayangnya dalam kondisi saat ini, cinta yang lahir cenderung penuh hawa nafsu dan menyimpang daripada tujuan murni yang sebenarnya. Setiap saat, setiap hari kita dibuai dengan lagu cinta, dibuat terlena dengan tontonan kisah cinta yang menghanyutkan kita ke dunia khayal yang merugikan. Kini bahkan banyak yang menyalahartikan makna cinta sebenarnya, sehingga terdorong melewati batas pergaulan dan tatasusila seorang mukmin.

Untuk itu, renungkanlah sejenak hakikat kehidupan kita di dunia. Rasullulah SAW bersabda: “Tidak sempurna iman salah seorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai diri sendiri.” Juga sabda Rasulullah, “Barang siapa ingin mendapatkan manisnya iman, maka hendaklah ia mencintai orang lain karena Allah.” (HR Hakim dari Abu Hurairah). Memang, dalam mengimplementasikan iman dalam kehidupan tak semudah mengucapkannya, “apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan; kami telah beriman, sedangkan mereka tidak diuji” (QS. 29:2). Hanya manusia yang tau diri, maka mereka akan bisa menilainya karena orang yang tidak tahu dirinya, tidak akan pernah tahu Tuhannya.
Yang jelas, bahwa kemuliaan pasti diraih oleh orang-orang yang menjadikan agama sebagai landasan jalan hidupnya dan kesengsaraanlah bagi orang-orang yang menolak petunjuk agamanya. Allah Swt. berfirman; “barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka ia tidak akan sesat dan sengsara. Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya adalah kehidupan yang sempit dan Kami menghimpunnya di hari kiamat dalam keadaan buta”. Wallahu a’lam.


 
< Prev   Next >
Masjid Kita
Calendar
Total Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday26
mod_vvisit_counterYesterday34
mod_vvisit_counterThis week224
mod_vvisit_counterThis month463
mod_vvisit_counterAll34006
Kontak Masjid