Selayang Pandang arrow Mauizhah arrow Otak Itu Mempunyai Hati
Hadirilah Kajian Tafsir Hadis Setiap Kamis Malam Seusai Solat Magrib, Kajian Keluarga Sakinah Setiap Hari Ahad Mulai Pk. 10.00 WIB, Kajian Kitab Kuning Setiap Hari Senin Bakda Ashar, Semua Acara dilaksanakan di Masjid Raya Batam Centre
Sudut Masjid
Selayang Pandang
Program Kegiatan
Kegiatan
Mauizhah
Konsultasi
Hubungi Kami
Foto Kegiatan
Tamu Kita
Informasi
Jadwal Shalat
Subuh 04:43
Fajar 05:55
Dzuhur 12:04
Ashar 15:13
Maghrib 18:08
Isya 19:16
PDF Print E-mail
(Tulisan Tanggapan “Ternyata Hati Itu Berada di Otak! Halaman 17 Batam Pos 2 Desember 2008” oleh Ippho Santosa)
Image
 
OTAK ITU MEMPUNYAI HATI
Oleh: Muhith Marzuqi, SPdi*

Sewaktu saya membaca tulisan Sdr Ippho Santosa mengenai hati itu berada di otak (Batam Pos, 2/12/08) saya sempat tersentak. Encer sekali otak sang Creative Marketer kaerna penafsiran marketingnya telah berani merambah ke dunia medis dan dunia religi. Setelah selesai membaca otak saya membenarkan apa yang di kupas sdr. Ippho, tetapi hati saya berkata tidak. Seiring berlalunya waktu, pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut dalam fikiriran saya satu persatu mulai terjawab.

1. Dunia Medis
 
Tidak sedikit orang yang di operasi atau diganti hatinya, ternyata orang itu tidak meninggal dan tidak berubah sifat-sifatnya, salah satu contoh Dahlan Iskan. Tidak sedikit orang yang di operasi dan di cangkok jantungnya orang itu tidak meninggal dan tidak meninggalkan sifat-sifatnya. Adakah orang yang di operasi otaknya? Seandainya ada ia pasti akan mati seketika.

Mendengar pernyataan terhadap apa yang dinyatakan sdr. Ippho seakan benar adanya, akan tetapi kalau melihat sejarah awal orang berganti jantung, berganti hati dan berganti organ tubuh lainya tentu melalui proses, tidak langsung berhasil seperti ilmu medis yang ada saat ini. Kalau sekarang dunia medis sudah berani menutup saluran otak kecil atau membuang otak kecil dan tidak ada pengaruhnya apa-apa terhadap orang tersebut, suatu saat pasti akan ada masa yang akan datang yang berani mengganti otak besar. Pergantian otak itu tidak mengandai-andai.

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan Bapak Khairul Shaleh Ketua NU Kota Batam, beliau menyampaikan bahwa anaknya yang bernama Reza sejak bulan Ramadhan 1429 H yang lalu mengalami sakit tidak sadarkan diri, menurut diagnosa  dokter di salah satu rumah sakit di Jakarta anaknya terserang kanker otak yang ganas, akhirnya kanker tersebut harus di operasi, setelah operasi yang pertama masih juga tidak sadarkan diri, setelah diagnosa yang kedua  dokter berpendapat kanker itu mempunyai akar, akarnya sudah  kemana-mana akhirnya diputuskan untuk operasi pengangkatan kanker yang kedua, setelah operasi pengangkatan kanker yang kedua masih juga tidak sadarkan diri, kemudian kankernya di sinar X,  setelah di sinar juga tidak mempan akhirnya penanganannya harus lakukan dengan metode kemoterapi, setelah di kemoterapi anaknya sadar tetapi tidak bisa bergerak, hanya bisa memahami pembicaraan orang yang ada di sekelilingnya dengan bahasa isyarat.

Suatu saat ada kesempatan yang baik, Bapak Khairul Shaleh pergi ke Mallaka dan bertanya dengan dokter spesialis di sana. Dokter spesialis itu mengatakan bahwa: “Tidak ada hubungannya antara pembuangan kanker di otak dengan tidak bisa bergerak, tidak bisa bicara atau terganggunya sistem syaraf. Bahkan dokter spesialis tersebut berani menjamin kalau saluran otak kecil itu bisa ditutup atau bahkan otak kecilnya dibuang, karena memang antara otak dan tidak bisa bergerak atau tidak bisa bicara itu tidak ada kaitannya. Dokter spesialis itu memberikan pemahaman mungkin saat pengangkatan tumor atau kanker di otak ada salah satu atau beberapa syaraf yang terpotong sehingga mengakibatkan fungsi organ tubuh tidak bisa bergerak sehingga mengalami kelumpuhan atau mengakibatkan tidak bisa bicara”. Demikian penjelasan Bapak Khairul Shaleh kepada saya.

Mendengar jawaban tersebut maka pendapat sdr Ippho yang mengatakan apabila ada orang yang dioperasi otaknya pasti mati sudah terbantahkan. Di dalam dunia medis yang saat ini yang masih misteri adalah masalah syaraf, sehingga dokter-dokter syaraf hanya menyarankan terapi, tetapi bukan berarti tidak mungkin syaraf manusia itu tidak bisa di tangani, begitu juga pergantian otak, saat ini pergantian otak kecil sudah tidak menjadi masalah nanti pasti akan ada dokter yang berani menganti otak besar dan sukses dengan ekperimennya.

2. Dunia Non Medis

Secara bahasa, antara al-fikr (memikir) dalam otak, dengan al-qolb (merasa) dalam hati itu jelas berbeda pemakaiannya. Dalam alquran dan alhadis tidak pernah ditemukan hati dengan kata-kata al-fikr, atau al-qolb dimaknai fikir. Mungkin sangatlah tepat pepatah yang mengakan al-ilm fi sudr laa fi suthr, yang artinya ilmu itu dalam dada, bukan dalam buku. Atau kata makan hati, tidak bisa diganti dengan makan otak, dan gara-gara kata makan hati Rita Sugiarto pernah berurusan dengan pakar bahasa dan kepolisian karena mengganti makan hati diganti dengan makan darah. Bisakah disamakan arti makan hati dengan makan otak? Konotasinya orang melayu bisa jadi makan otak-otak.

Jadi pendapat sdr. Ippho Santosa yang mengatakan “Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik maka baik seluruhnya, dan apabila segumpal ini rusak maka rusak pula seluruh tubuhnya, ketahulilah sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati”, yang menurut sdr. Ippho Santosa hati itu kiasan dan bentuk nyatanya adalah otak juga tidak benar.  Sebab  kalau otaknya bisa diganti kasusnya jadi sama dengan yang sdr. Ippho Santosa sangkal saat ini. Kiasan tetap akan kiasan selamanya, tidak bisa di munculkan.

Bukankah orang itu waras atau tidak itu tergantung akalnya (otaknya). Bukankah orang itu mabuk, berfoya-foya atau tidak itu tergantung akalnya (otaknya). Bukankah orang itu dihisab atau tidak tergantung akalnya (otaknya)? Bukanakah orang itu jahat atau tidak tergantung akalnya (otaknya), bukankan orang itu diganjar pahala atau tidak tergantung akalnya (otaknya), bukankah orang itu diganjar surga atau tidak tergantung akalnya (otaknya). Jelas pendapat itu tidak benar, karena dalam kondisi tersebut masing-masing nafsu dalam diri manusia yang berfungsi, yang diadili dan yang bertanggung jawab bukan otak fisiknya kalau yang bertanggung otak fisiknya setelah meninggal sudah di makan rayap saat di kubur

Dalam agama islam akal yang ada dalam kepala itu mempunyai indera, akal dapat merasakan fikirannya akal, keinginannya akal, rasanya akal, marahnya akal, sedihnya akal dan lain sebagainya. Kalaulah rasa itu dalam jantung maka rasa tersebut juga mempunyai indera, rasa  dapat merasakan fikirannya rasa,  keinginannya rasa, rasanya rasa, marahnya rasa, sedihnya rasa dan lain sebagainya. Dan hati yang ada dalam dada juga mempunyai indera, bisa merasakan fikiranya hati, keinginan hati, rasannya hati, senangnya hati, sedihnya hati dan dan perasaan-perasaan lainya.

Jadi adanya fikiran, perasaan, hati semua itu berada dalam alam jiwa, kalau berada dalam alam jiwa maka sama dengan posisinya dalam alam ruh. Bisakah alam ruh dizahirkan dalam tubuh fisik, tentu tidak bisa. Kalaulah ada yang menerjemahkan hati fisik sama dengan hati jiwa pendapat tersebut tidak benar, tetapi sekali lagi kalau hati (kiasan) yang seperti yang sdr Ippho paparkan berada dalam otak jauh lebih tidak benar, bukankah rasa tenang itu hanya dalam akal (fikiran), sedangkan rasa tentram itu ada dalam hati (jiwa)? Samakah antara rasa tenang dan rasa tentram ?.

Kalau sedikit menyelami alam ruh maka saya menyimpulkan dari berbagai berpendapat ulama tasawuf, intinya jumlahnya ada tujuh macam nama  Ketujuh nama tersebut berbeda-beda alamnya. Yaitu, 1) al-aql (fikiran) berada dalam otak dikepala, 2) al-zhauq (rasa) yang berada dalam dada, 3) al-qolb (hati) berada di bawahnya rasa, 4) al-nafs (jiwa) berada dibawahnya hati 5) al-ruh (diri) berada dibawahnya jiwa 6) al-sirr (rahasia terdiri) berada bawahnya jiwa dan 7) al-sirr asrar (rahasia yang tersembunyi) atau bisa juga disebut nafsu muthmainnah (jiwa yang tentram.) yang kembali kepada sang khaliq. Rasa-rasa tersebut tentu tidak bisa dimasukkan kedalam satu bentuk fisik dalam tubuh manusia yang ada dalam kepala yaitu otak seperti yang sdr. Ippho paparkan.

Kalau menurut saya sebenarnya bukan hati itu berada di otak, akan tetapi otak itu mempunyai hati. Dengan demikian jika seandainya pendapat sdr.Ippho benar tentu hanya bersifat sementara dan akan terbantahkan bersamaan dengan bergulirnya waktu. Walaupun pengetahuan agama diberi ruang untuk berbeda pendapat, akan tetapi apabila pendapat kita tidak benar maka harus berani memperbaiki diri, instropeksi, tidak menang sendiri seperti pepatah jawa yang sangat mahsyur rumongso biso yo kudu biso rumongso lan biso ngrumangsani.


*Muhith Marzuqi adalah Rohaniawan RS AWAL BROS Batam, mantan ketua HMI Kota Batam. Alamat tempat tinggal sekarang di Bengkong Baru Blok D Nomer 1 (Komplek Masjid Raudhatul Jannah) Bengkong Indah, Kota Batam. Telepon 0778-430891, HP 0819-222-43-77, Email: This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it

 
< Prev   Next >
Masjid Kita
Calendar
Total Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday20
mod_vvisit_counterYesterday42
mod_vvisit_counterThis week62
mod_vvisit_counterThis month301
mod_vvisit_counterAll33845
Kontak Masjid