Saat-saat Indah Kelahiran Manusia Baru
Ketika sebulan penuh di bulan Ramadhan Allah mengalirkan getaran sejuk kasih dan sayangNya dengan dibukanya pintu-pintu surga. Tercurahnya rahmah dan magfirah dengan malimpah. Lihat;lah selama Ramadhan, siapa yang mengomando orang-orang yang biasanya malas ke Masjid kini ia rajin berjamaah dan shalat taraweh. Perhatikanlah, mereka yang biasa seronok dan mengumbar aurat kini mengenakan busana muslimah. Pengajian-pengajian menjamur sampai di kantor-kantor bahkan di hotel-hotel. Begitu mudah orang berbuat baik. Begitu mudahnya orang meretasi jalan-jalan menuju surga.
Sebulan ramadhajn Allah semakin gencar menunjukkan betapa kasih dan sayang-Nya teramat sangat dekat di setiap detik-detik nafas hamba-Nya. Ia tutup rapat-rapat pintu neraka. Ramdhan benar-benar sarana pembersihan jiwa para shaimin dari kotornya sifat-sifat keji, membersihkannya dari hal-hal yang buruk dari pengaruh maksiat dan syahwat. Dengan demikian para shaimin terasa berat melangkah melalui jalan-jalan ke neraka.
Na’udzubillah bila masih banyak saudara kita yang tak tersentuh sedikitpun oleh gema Ramadhan ini. Mereka tetap memfitnah saudaranya sendiri sebagai teroris. Mereka tetap saja tidak memponis diri telah menari-nari di atas luka, penderitaan anak-anak mereka sendiri yang terzhalimi hak-haknya. Mereka sampai ada yang berani unjuk rasa agar perzinahan mereka jangan di larang……..Na’ udzubillah.
Setalah sebulan kita bermujahadah bertahan dari serangan-serangan yang seringkali menghembuskan kecintaan kepada angan-angan dari pada iman. Setalah kita berupaya keras memeras untuk menguras kipas-kipas syahwat yang membentuk hubbud dunya melepas ikatan dengan akhirat. Setalah kita berjuang keras menebar cinta kasih dan kelembutan, menahan jiwa kasar dan anarkis, mengikis rayuan-rayuan iblis yang tak realis bahwa kebesaran itu ada pada amarah, pongah dari kesombongan. Itulah puasa sebagai prisai.
Yakni perisai dari segala pengaruh yang menjadikan jiwa bergemuruh gelora maksiatnya, dari lahirnya peradaban berujung kebinasaan di dunia dan berujung neraka. Ibul Arabi mengomteri: “ sesungguhnya puasa itu jannah dari neraka karena puasa mampu menahan syahwat sementara itu neraka sangat membutuhkannya”.
Setelah sebulan kita berupaya keras menhias tutur kta indah penuh makna, menyentuh qalbu, utuh dengan nilai penguguah jiwa dan cermin dari sikap patuh. Setiap mendengarnya luluh dalam suasana dan nuansa keakraban, ukhwwah, bersih dari benih-benih kedengkian dan permusuhan. Menjalin kemesraan yang pada kedalaman iman dan bermuara pada kedalman sifat rahmah yang senantiasa menyuguhkan banyak Hikmah. Bahkan kata-kata bijak merupakan senjata andalan merespon ajakan-ajakan perseteruan dan permusuhan, bukan emosi yang dilapisi ambisi dan kedengkian.
Maka dapat dibayangkan suasana hidup bersama orang-orang seperti ini : “Apabila salah seorang diantara kalian pada hari dia sedang berpuasa maka janganlah ia berkata kotor dan janganlah ia bersuara keras. Maka jika ada seseorang yang memakinya dan mengajak berkelahi, hendaklah ia mengucapkan “sungguh aku sedang berpuasa”………. (HR. Bukhari).
Bila shaum Ramadhan dijalani dengan jiwa penuh iman dan ihklas, maka tiada yang membuat jiwanya semakin ;lebih tentram kecuali beban berat dan amat berbahaya itu kini telah sirna. Itulah dosa. Seperti janji Rasulullah : “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap ridah-Nya niscaya pasti diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(Bukhari &Muslim).
Detik demi detik Ramadhan yang dilalui ternyata amat menarik hati, terpetik berbagai kenikmatan-kenikmatannya. Nikmat melantunkan dzikir yang semakin terasa buah tentramnya. Nikmat mengayunkan langkah ke Masjid yang semakin terasa buah kemenangannya. Nikmat shalat berjamaah di Masjid yang semakin terasa kekhusu’anya. Nikmat menyegerakan buka walau dengan seteguk air yang ternyata terasa semakin amat berharga karunia-Naya meskipun sekecil apapun bentuknya. Nikmatnya merenungi kata demi kata firman-Nya dalam tadarus yang semakin terasa mudah menyentuh nurani. Dan nikmatnya…………………..masya Allah.
Perjalanan indah menuju Allah di bulan Ramadhan disadari atau tidak sebenarnya telah terpatri pada hati setiap shaimin. Kesedihan yang memuncak tak kuasa dicegah ketika suara-suara takbir, tahlil dan tahmid menggema menembus relung jiwa, terdengan sejak pagi subuh diawal syawal. “ Sekiranya kemesraan dan kebahagiaan ini tidak berlalu”.
Subhanallah, pagi hari ini awal syawal begitu hidmat, karena jiwa bersih hasil gemblengan Ramadhan sedang berikrar menggetarkan seluruh potensi kemanusiaan yang terlantunkan pada kalimta-kalimat. Pengakuan yang akan dipegang erat-erat. Pengakuan hanya pencipta alam inilah yang layak diagungkan kuat-kuat, bukan dunia dengan sdegala pangkat-pangkat, tidak pula emas ribuan karat, bukan pula tumpukan secuak nikmat. Kini ia semakin yakin bukan selain Allah tempat hati bertambat karena resikonya hanyalah laknat. “ ALLAHU AKBAR”. Allah Maha Besar. Tidak ada mahkluk di alam raya ini serupa dengan-Nya. Maka alasan apa yang membenarkan kita membesarkan yang kecil itu ? tidakkah kita malu memuja dan mendambakan yang kecil itu? Begitu tekadnya.pada pagi di awal syawal kita tak mampu lagi membendung laupan bahagia yang selama in kita acapkali tak merasakannya padahal kita telah lama memiliki harta itu.ia teramat sangat mahal, sangat berharga. Ia adalah iman kepada Allah. Kini kita merasakan manisnya dan kelezatannya. Sipakah yang lebih bahagia daroi seorang hamba yang percaya dan yakin bahwa hidupnya dijamin oleh pemilik jagat raya in? latihan selama Ramadhan, mengekang syahwat duniawi ternyat berhasil menajamkan kepekaan di hati untuk menikmati lezat dan manisnya iman. Bahagianya.
Setelah takbir menyingkap tabir kebesaran, kemuliaan, keagungan dan kejayaan duniawi yang fatamorgana. Kini, nampaklah kebesaran itu ternyata milik Allah, ALLAHU AKNBAR.
LAAILAHAILLALLAH, semakin berkesan memberi kesan dan pesan nan dalam. Jika Allah Maha Besar, maka siapakah yang lebih layak diberikan cinta yang paling tinggi dari pada Allah? Siapakah yang paling pantas ditaati dari selain Allah? Siapakah paling tepat untuk ditakuti selain Allah? Siapakah yang berhak untuk dijadikan sandaran segala asa selain Allah? Kita hanya pantas merasa hina dihadapan Allah bukan yang lain. Karena Allahlah Yang Maha Besar dalm kasih dan sayang, keagungan, kekuasaan dan keperkasaan.
Kebahagiaan semakin terasa ketika kita, hamab yang dhaif dan hina ini mampu mempersembahkan segala-galanya untuk-Nya Yang Maha Besar:” Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matikiu hanyalah untuk Allah, penguasa semesta alam” (QS.al-An Am 162)
Syawal ini terasa khusyu’. Naungan keagungan kasih kasih-Nya menciptakan hening nan sejuk. Mengalir ke hati menusuk. Hanya penguasa jagat raya inilah yang layak dipuja dan disanjung,mengakar dihati masuk. Bukan tipuan kebesaran semu duniawi yang seringkali menjadi sebab nasib terpuruk. Bukan kecilnya kenikmatan dunia yang seringkali menjadi biang harga diri manusia amruk. Bukan pula glamour dunia yang ditakdirkan lapuk, dan acapkali berujung pada hati sakit tertusuk.
WALILLAAHIL HAM, semakin membuatnya faham bahwa ketawadhu’an kepada Allah adalah ketinggiannya bukan kesombongan. Segala upaya hidupnya berujung pada pujian kepada Allah bukan pada dirinya atau kepada yang lain. Ketentaraman jiwa semakin terasa bila setiap melihat kelebihan pada dirinya mendorngnya semakin dekat dan taat pada Allah, bukan semakin lalai dari ketaatan.
Subahanallah, benar-benar di awal syawal telah lahir manusia-manusia baru. Menjadikan gema takbir, tahlil dan tahmid sebagai jalan hidupnya. Selamat menempuh hidup baru. Amien ya rabbal alamien
Uswathun HasanahDari Saidina ali bin Abu Tahlib ra., ia berkata: “ Nabi saw, ditanya mengenai fadhilah shalat tarawih dalam bulan Ramadhan. Lalu beliua saw, menjawab: “ Orang mukmin diampuni dosanya, bersih seperti bayi lahir dari kandungan ibunya, di awal malam Ramadhan. Lalu pada malam kedua, ia diampuni dosanya dan kedua orang tua (bapak ibu)nya yang mukmin, dan pada malam ketiga, malaikat memanggil dari bawah Arasy, berseru: segeralah engkau beramal, Allah mengampuni dosa-dosa terdahulu, dan pada malam keempat, diberi pahala sebanyak pahala membaca Taurat, injil, zabur dan al-Qur’an, dan pahala ke lima, diberi pahala sebanyak pahala shalat di Masjidil Haram, Masjidil Nabawih dan Masjidil Aqsa, dan pada malam keenam, diberi pahala sebanyak thawaf di Baitul Makmur, setiap batuan-batuan dan tanah liat beristigfar untuknya, dan pada malam ketujuh, seolah-olah bertemu dengan Nabi Musa, berjuang melawan Firaun dan Haman, dan pada malam kedelapan, diberi segala yang telah diberikan kepada Nabi Ibrahim as, dan pada malam kesembilan, seolah-olah ia beribadah yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad saw, dan pada malam kesepuluh, Allah memberikan kebaikan dunia dan akhirat, dan pada malam kesebelas, ia bakal meninggal dunia beersih dari segala dosa seperti baru lahir dari kandungan Ibunya, dan pada malam keduabelas, kelak wajahnya bercahaya seperti bulan purnama di hari kiamat, dan pada malam ketigabelas, kelak di hari kiamat aman dari segala kejahatan, dan pada malam keempat belas, dibebaskan dari hisab, para malaikat memberi kesaksian atas ibadah shalat tarawehnya, dan pada malam kelimabelas, berselawat kepadanya segenap malaikat, penanggung Arasy dan kursi, dan pada keenambelas, dibebaskan dari siksa neraka dan bebas pula masuk surga, dan pada malam ketujuhbelas, di beri pahala seperti yang diterma para Nabi, dan pada malam kedelapanbelas, malaikat memangginya” Ya hamba Allah, engkau dan kedua bapak ibumu telah diridhoi oleh Allah swt., dan pada kesembilanbelas, derajatny ditinggikan di sorga firdaus, dan malam keduapuluh, diberi pahala syuhadah dan sholihin, dan pada malam keduapuluh satu, dibangunkan sebuah gedung Nur di surga, dan pada malam keduapuluh dua, kelak di hari kiamat aman dari bencana yang menyedihkan dan menggelisahkan, dan pada malam keduapuluh tiga, dibangunkan sebuah kota disurga, dan pada malam keduapuluh empat, doa yang dipanjatkan sebanyak 24 do’a dikabulkajn, dan pada malam keduapuluh lima, dibebaskan dari siksa kubur, dan pada malam keduapuluh enam, pahala baginya ditingkatkan selama 40 tahun, dan pada malam keduapuluh tujuh, melintas shirat bagaikan kilat menyambar, dan pada malam keduapuluh delapan, ditinggikan derajatnya 1000 tinggkat di surga, dan malam keduapuluh sembilan , diberi pahala sebanyak 1000 hajji mabrur, dan pada malam ketiga puluh, diseru Allah dengan firmannya:” Ya hamba-Ku, silahkan makan buah-buahan sorga, silakan mandi air salsabil, dan minumlah dari telaga Kautsar, Akulah Tuhan mu dan kamu Adalah hamba-Ku” (Majlis)