Selayang Pandang arrow Mauizhah arrow Refleksi Keteladanan Kepemimpinan Rasulullah SAW
Hadirilah Kajian Tafsir Hadis Setiap Kamis Malam Seusai Solat Magrib, Kajian Keluarga Sakinah Setiap Hari Ahad Mulai Pk. 10.00 WIB, Kajian Kitab Kuning Setiap Hari Senin Bakda Ashar, Semua Acara dilaksanakan di Masjid Raya Batam Centre
Sudut Masjid
Selayang Pandang
Program Kegiatan
Kegiatan
Mauizhah
Konsultasi
Hubungi Kami
Foto Kegiatan
Tamu Kita
Informasi
Jadwal Shalat
Subuh 04:43
Fajar 05:55
Dzuhur 12:04
Ashar 15:13
Maghrib 18:08
Isya 19:16
PDF Print E-mail
Refleksi Keteladanan Kepemimpinan Rasulullah SAW

Menjelang berakhirnya masa kepemimpinan Rasulullah SAW. Beliau menyampaikan pidato kenegaraan yang sangat terkenal sepanjang sejarah peradaban manusia khususnya dalam lingkup ketatanegaraan. Dan sampai saat ini belum ada seorangpun pemimpin dunia yang berani mengulang pidato kenegaraan yang demikian berbobot tersebut.

Wahai sekalian manusia, kata Rasulullah, sudah lama kita bersama dalam suka dan duka, dalam kebersamaan itu, sebagai manusia biasa seperti kalian, tentu saya tidak luput dari salah dan khilaf. Oleh karenanya barang siapa yang merasa pernah saya dzalimi baik secara langsung ataupun tidak langsung langsung, sengaja atau tidak sengaja, baik melalui tatapan mata, sikap, tindak tanduk, prbuatan, kebijakan, tanda tangan surat keputusan dan lain sebagainya. Saya persilahkan hari ini menuntut balas, qishoslah diri saya sebelum Allah SWT. yang membalasnya pada hari pembalasan dimana akan ditegakkann keadilan dengan seadil adilnya dalam mahkamah Roob yang Maha Adil.

Lautan manusia ketika itu hening, jangankan bersuara, angkat bicara apalagi sampai berdiri mengacungkan tangan, semua tertunduk menatap bumi menteskan airmata, sambil berbisik dalam hati apa ada manusia yang tega menyakiti Rasulullah, siapa dia, darimana asalnya, kalangan Muhajirin atau Anshor, mengapa tidak dimaafkan saja, bukankah jasa Rasulullah tiada bandingnya dengan kebaikan apapun, bukankah rasulullah yang telah membimbing kita, dari jahiliyah menuju alam ilahiyah, bukankah tampa Rasulullah dunia gelap gulita, bukankah tampa Rasulullah kita semua menjadi samtapan neraka jahannam yang menggelegar  ?.

Gemuru dada sahabat yang disertai isak tangis tiba-tiba tersentak, dengan nada lantang, tegas penuh wibawa dari Rasulullah SAW yang kembali mengulangi pernyataan yang sama untuk kedua kalinya, karena kejadian itu sangat membekas dalam benak Rasulullah, namun jangankan mengaku, angkat bicara dan bersuara, mengangkat wajah saja tiada yang kuasa pada hari itu.

Dan untuk yang ketiga kalinya Rasulullah kembali mengulangi pertanyaan yang sangat bersejarah itu, siapa yang pernah saya dzalimi menuntut balaslah sekarang, atau barangkali sahabat sekalian lebih rela saya diadzab oleh Allah ??

Tidaak….. tidaaaak….. tidaaaaak….. dari kejauhan tampak sosok mengacungkan jari. Tidaak ya Rasulullah, sayalah orang yang baginda maksud. Sayalah yang telah engkau dzalimi, dan hari ini saya akan menuntut balas ya rasulullah. Pasangan mata lautan manusia ketika itu memandang tajam ke arah sumber suara yang ternyata kemudian di ketahui dia adalah Ukasyah, veteran mujahidin sebuah peperangan.

Silahkan ke mari Ukasyah, wahai sang penyelamatku dari murka dan azab Allah. terima kasih atas kejujuran dan keberaniannmu. Silahkan sampaikan kronologis yang sesungguhnya seperti apa.

Terima kasih ya Rasulullah, sebelumnya saya mohon maaf atas sikap saya ini, semua saya lakukan semata-mata atas dasar cinta kepadamu dan takut kepada Allah SWT, itupun karena pernyataan Rasulullah yang diulang sampai 3 x.

Tepatnya pada sebuah peperangan, jihad menegakkan dinullah melawan kafir qurays, dan saya yakin itu tampa engkau sengaja Ya  Rasulullah, ketika yang mulia bermaksud mencambuk tunggangan perang, sangkin kuatnya cambukan tersebut mengenai badanku Ya Rasulullah.

Tapa pikir panjang Rasulullah memerintahkan Bilal bin Rabah mengambil cambuk yang dimaksud di rumah Rasulullah SAW.

Menjelang kedatangan Bilal. Sahabat satu persatu antri menawarkan diri untuk menjadi tumbal, mereka rela dicambuk sampai mati sekalipun asalkan tidak Rasulullah SAW yang di qishas. Pertama tama rayuan memelas penuh dengan kelembutan penuh harap datang dari orang tua bijak Abu Bakar Siddiq, sahabat sekaligus mertua Rasululllah, termasuk generasi awal yang memeluk Islam.

Ya Rasulullah betapa dalamnya makna rangkaian tausiyah yang barusan engkau sampaikan, menambah dalam cinta kami kepada Mu, semakin mantabkan keyakinan dan keimanan kami atas kebenaran ajaran Islam, Maha Suci Allah yang telah mengutusmu dan menyelamatkan manusia dari kegelapan termasuk diriku, tadinya kami tidak tau dengan apa kami balas semua kebaikan, jasa, dan pengabdianmu. Tapi saat ini kesempatan emas itu datang dan peluang pengabdian itu terbuka lebar. Perkenankan sahabat dekat mu ini menunjukkan bakti, dan bukti cintanya padamu. Biar aku yang di kishas oleh Ukasyah. Jangan engakau wahai kekasih Allah, tak akan kurelakan siapapun hari menyentuh apalagi sampai menyakiti terlebih lagi mengkishsmu.

Heniing sekali saat itu, bening tetes demi tetes linangan air mata haru Rasulullah membasahi pipi. Terbayang jauh ke belakang kenangan manisnya bersama Abu Bakar saat mengawali dakwah Islam. Beliau termasuk asshabiquunal awwaluun, generasi pertama yang memeluk Islam di saat Makkah masih kelap gulita dengan kejahiliaannya. Ketika ada pengumuman; perjuangan memerlukan dana maka Abu Bakar membawa seluruh hartanya. Terima kasih wahai sahabatku, namamu tercantum sebagai salah satu penghuni syurga. Namun ini adalah dosa yang telah saya lakukan dan saya pulalah yang harus menyelesaikan dan menebusnya tidak bisa diwakilkan walau oleh seorang Abu Bakar. Mengetahui tawarannya ditolak iapun mundur dengan bijak.

Tidak mau ketinggalan dan kehilangan kesempatan, Singa padang pasir Umar Bin Khottob maju sebagai nominator berikutnya. Kalaulah tidak dihadapa Rasulullah mungkin sudah ditebasnya leher Ukasyah

Wahai kekasih Allah, diantara sekian banyak manusia yang hadir saat ini mungkin Umarlah yang paling berhak engkau prioritaskan menjadi penggantimu untuk di kishas. Masa lalu Umar demikian kelam Ya Rasulullah, engkaupun tau betapa hitam masa lalu ku. Aku berada di tepi jurang neraka, tenggelam dalam dosa dan maksiat, berkubang lumpur noda. Tiba-tiba engkau datang membawa Islam, lalau aku diselamatkan karenanya. Beri kesempatan Umar Ya Rasulullah, memelas Umar setengah memaksa.  “saksikan wahai manusia, takkan Umar biarkan siapapun hari ini menyentuh apalagi menyakiti penyelamatku Rasulullah SAW. Rasulullah demikian terharu pada  kepolosan sosok singa padang pasir yang demikian tegar, tegas, keras namun sangat mudah tersentuh oleh kebenaran.

Umar, kata Rasulullah: terima kasih atas kesetiaan dan pengorbananmu yang tiada banding dan tiada tanding sebagai wujud keimanan dan cintamu pada Allah dan Rasulnya, kau termasuk salah seorang sahabat ku yang mendapat jaminan masuk surga, takutmu kepada Allah demikian sempurna sehingga tiada yang engkau takuti kecuali hanya Allah menyebabkan semua musuh Allah gentar bila berhadapan denganmu termasuk setan laknatullah alaihi.

Tetapi ketahuilah umar, ini urusanku dengan Ukasyah,
Apakah engkau rela kalau kekasih Allah yang engkau cintai ini melanggar hukum Allah?
Apakah engkau rela Allah murka padaku karenanya?
Dan dimana letak wibawa hukum Allah yang demikian kita agungkan, sanjung dan junjung tinggi selama ini?
Lalu apakan adil kalau Muhammad yang berbuat salah lalu orang lain yang dihukum?

Dihujani pertanyaan bertubi tubi Umar membisu seribu bahasa, hatinya luluh atas kebenaran yang disampaikan Rasulullah. Berturut-turut kemudian sahabat Utman bin Affan RA. Dan Saidina Ali Karramallahu Wajha. Namun sebagaimana sahabat sebelumnya semua permohonan mereka ditolak, suasana semakin hening, kian hening. Namun tiba-tiba keheningan suasana pecah dengan tampilnya dua sosok anak muda yang ikut dalam bursa pencalonan pengganti Rasululah untuk di kishas, mereka adalah Hasan dan Husain.

Kakek???? Sapa mereka dengan lirih…
Kalau yang lain sangat logis ditolak, tapi bagaimana dengan kami, kami darah dagingmu ya Rasulullah?? Kami penerus cita-cita pelanjut sejarah risalah yang engkau bawa. Kami ahli warismu, apakah kami akan di tolak juga? . semakin berkaca-kaca mata rasulullah menyaksikan kesetiaan orang-orang yang dicintai termasuk cucunya yang masik belia. Tapi lagi-lagi demi sebuah kebenaran beliau mampu mengendalikan, mengalahkan serta menundukkan semuanya demi tegaknya sebuah kebenaran dan keadilan padahal jarang sekali rasulullah tidak mengabilkan permohonan kedua buah hati belahan jantungnya, terkadang sujud diperlama ketika hasan atau husein menaiki punggungnya menunggu cucunya turun barulan beliau bangkit dari sujud. Demikian cintanya beliau pada keduanya. Demikian pula ketika Fatumah putri semata wayang dengan cambuk di tangannya memelas, Ayah alanghkah malangnya nasib putrimu ini kalau akupun tak mendapatkan kesempatan untuk berbakti menjadi tumbal menggantikan engkau ya Rasulullah.

Putriku, lukamu adalah, lukaku, sakitmu adalah sakitku, air matamu adalah air mataku, bahagiamu adalah bahagiaku. Tapi ini demi tegaknya keadilan dan kebenaran akan hukum Allah. Serahkan cambuk itu pada ayah sayang. Luluh juga Fatimah, tak sanggup lagi dia merayu ayahnya.

Setelah cambuk diterima Ukasyah, sang eksekutor ini kembali berulah. Ya Rasululah pada saat kejadian itu hamba dalam keadaan bertelanjang dada, tak berbusana ya rasulullah, lalu apakah adil kalau saat aku menuntut balas lalu tubuhmu terhalang oleh pakaian, apakah Allah ridho dengan eksekusi yang tidak berimbang ini. Sahabat banyak yang histeri menyaksikan apa yang dipertunjukkan oleh ukasyah. Dan yang lebik mengharukan bahkan sangat mengharukan adalah sikap Rasulullah yang tampa pikir panjang, hamba Allah termulia di dunia ini langsng membuka baju sehingga tampak tubuh beliau (alaamatunnubuwah) yang bersih, bersinar. Adegan demi adegan mengharuka terus berlangsung dan saat mendebarkan tiba tiba Ukasyah putar haluan, membuang cambuk sejauh-jauhnya lalu memeluk tubuh Rasulullah yang memang sudah demikian dekat dengannya.

Dalam dekapan Rasulullah Ukasyah demikian lunglai lemas tak berdaya, sudah demikian lama ia menanti kesempatan emas nan sangat berharga dan takaakan mungkin terulang kedua kalinya. Wahai kekasih Allah….. demi Zat yang nyawaku dan nyawa mu serta nyawa semua makhluk ada dalam genggamannya, sama sekali tidak terbesit dalam hatiku untuk membalas dendam, kalaupun ada salah, apalagi tampa di sengaja, apalagi dalam jihad membela agama Allah semua telah aku maafkan Ya Rasulullah. Semua ini aku lakukan sebagai wujud cinta dan sayangku padamu, hanya dengan cara ini ya Rasulullah, aku takut jauh dengan mu, tak ingin nerpisah dengan Mu.

Iya ukasyah, Allah yang menjadi saksi isi hatimu, maka hari ini aku Muhammad Rasulullah sampaikan Aku dan Ukasyah tidak akan berpisah selamanya, kalaupun kematian memisahkan kami itu hanya perpisahan sesaat untuk sebuah pertemuan dan kebersamaan yang kekal abadi dalam surga Allah yang maha Agung.

Subhaanallah. Ini buka cerita fiktif, ini adalah sejarah emas Islam. Keagungan dan kemuliaan akhlaq seorang pemimpin, dan kecintaan tiada tara rakyat pada pemimpinnya.

Di musim pilkada yang sedang menjamur di tanah air, ada baiknya para calon pemimpin baik legislative, eksekutif, dan udikatif, introspeksi diri, memetik pelajaran berharga dari kisah ini. Mengingat beratnya yanggungjawab seorang pemimpin. Kebijakan yang dikeluarkan akan sangat menentukan hitam putih bahkan bahkan sejarah sebuah bangsa, . Fit and propertst demikian lemah, sehingga nilai-nilai moral, keteladan dari sang maertro negarawan ulung di atas diharapkan dapat dijadikan  frem berharga

Kalau rumah kita bocor, kalau bangunan megah ini bocor, kita pasti melihat ke atas, demikian pula kalau kota bocor, provinsi bocor, departemen bocor, Negara bocor. Rakyat pasti lihat ke atas. Belum ada sejarahnya Negara rusak oleh rakyat, tapi sejarah mencatan betapa banyak Negara yang rusak oleh pemimpinnya, disuruh bagi beras malah nimbun beras, diperintah jaga hutan malah ramai ramai jadi orang hutan, diamanahi jaga laut malah menjelma jadi bajak laut, demikian pula yang diamanahi sebagai hamba hukum, tak jarang bikin hukum seperti pisau. Tajam kalau ke bawah tumpul kalau ke atas, kalau yang kecil bersalah hukum cepat ditegakkan, tapi kalau yang besar bersalah diam pura pura tidak tau.

Bagi kita rakyat diwajibkan berperan serta menciptakan pemerintahan yang sehat dengan memilih pemimpin yang amanah, cerdas, provisional, bertakwa, takut kepada Allah serta cinta dan sayang kepada rakyat.

Berikut diantara tuntunan Allah dalan memilih pemimpin
1.  QS: Ali Imran :28

Janganlah orang mukmin mengambil orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang mukmin….
2. QS:Annisa’ 144:
Hai orang- orang beriman janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin,  selain dari orang orang yang beriman. Apakah kamu ingin menjadikan alas an yang nyata bagi Allah untuk menghukum kamu.

M. Bashir Daeng Pasabbih, Kolumnis, Aktifis Dakwah Nasional Hidayatullah




 


 
< Prev   Next >
Masjid Kita
Calendar
Total Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday23
mod_vvisit_counterYesterday42
mod_vvisit_counterThis week65
mod_vvisit_counterThis month304
mod_vvisit_counterAll33847
Kontak Masjid