Puasa dan Nilai Kepekaan Oleh : H. Effendi Asmawi MA (SekjenMUI Kota BATAM)
”Barangsiapa yang berpuasa ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ” (HR. Bukhari- Muslim, at-Tarmizdi, An-Nasa’i dan lainnya). Rasul saw bersabda: ” wahai manusia ! siapa yang memperbaiki akhlaknya pada bulan ini, kelak ia akan melintasi shirat (dengan mudah), ketika semua kaki tergelincir pada waktu itu ! Siapa yang meringankan beban hamba sahaya pada bulan ini, maka Allah akan meringankan hisab baginya. Barangsiapa yang mencegah perbuatan buruk, Allah tidak akan murka dengannya saat bertemu nanti dengan-Nya.
Ibadah puasa merupakan ibadah yang sangat banyak mengandung kebajikan, diantaranya yang sangat penting adalah bahwa ibadah puasa dapat meningkatkan rasa kepekaan dan kepedulian kepada sesama. Itu sebabnya Nabi saw menyebut bulan Ramadhan sebagai ” syahrul muwasat” (bulan kepekaan terhadap sesama). HR. Ibn Khuzaimah.
Kepekaan itu timbul karena orang yang berpuasa pasti merasakan lapar dan dahaga seperti yang biasa dirasakan oleh orang-orang yang tidak mampu yakni fakir-miskin dan kaum dhuafa lainnya. Jadi ibadah puasa sesungguhnya memiliki fungsi penting yaitu mengasah dan mempertajam rohani manusia sehingga ia dapat melihat dan merasakan penderitaan orang lain. Bukti mengengai kepekaan itu dapat dilihat dari perintah Nabi saw agar kaum muslimin di bulan Ramadhan ini banyak memberi makan atau menyediakan buka bagi orang yang berpuasa. Rasul saw bersabda ; ...”barangsiapa memberi makan atau menyediakan buka bagi orang yang berpuasa, maka hal itu dapat menjadi tebusan atas dosa-dosanya dan pembebasan dirinya dari api neraka, ia juga beroleh pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu tidak berkurang pahalanya barang sedikitpun”. Mendengar pernyataan Rasul saw, para sahabat meminta penjelasan lebih lanjut dari beliau. Mereka berkata, tidak semua orang dari kami memiliki kemampuan untuk memberikan makan kepada orang yang berpuasa?” Lalu Rasul saw menjawab: ” Allah swt telah menyediakan pahala besar untuk kalian. Apakah kalian tidak sanggup menyediakan buka walau hanya sebutir kurma, segelas air putih atau secangkir susus ?”. Kemudian beliaupun menegaskan kepada para sahabat bahwa kepedulian kepada orang yang berpuasa itu dapat membuat seseorang meraih rahmat dan ampunan dari Allah swt” (HR. Baihaqy dan Ibn Hibban). Nabi Muhammad saw sendiri, seperti tersebut dalam Hadits Bukhari, dikatakan sebagai orang yang paling peka terhadap kebaikan dan kepekaannya itu mencapai puncaknya di bulan Ramadhan.
Dikatakan, kepekaan Rasul saw ”ibrat angin kencang” (karrihil mursalah). Kebaikan Rasul saw, menurut Ibn Hajar al-Asqalani, diserupakan dengan angin karena ada aspek kesamaan antara keduanya. Dikatakan, angin itu angin syurga yang diutus oleh Allah untuk menurunkan air hujan, sehingga membasahi dan menghidupkan bumi yang kering dan mati. Kebaikan Nabi sama dengan air hujan itu juga, menyejukkan dan memberikan kesejahtraan bagi seluruh umat manusia.
Kepekaan terhadap sesama ini menjadi problem tersendiri bagi kita sebagai umat dan bangsa. Tanpa kepekaan seperti ini akan timbul kerawanan-kerawanan sosial yang memberikan gap dan perbedaan (disparitas) antara si kaya dan si miskin akan semakin besar. Dalam situasi demikian, maka penyakit lama akan segera timbul yaitu kecemburuan sosial yang setiap saat dapat menyulut permusuhan dan kerusuhan. Rasa permusuhan ini tentu dapat mengganggu ketentraman kita sebagai umat dan bangsa.
Untuk itu, kita perlu belajar mengasah dan mempertajam kepekaan sosial kita melalui ibadah puasa. Ibadah puasa dapat membuat kita sehat, tidk hanya sehat secara pribaadi tapi juga sehat secara sosial – sesama kita. (wallahu a’lam).
|