Meraih Sukses Dengan Komitmen
Oleh : Teten Nasrudin
“Sungguh, orang-orang yang berjanji setia kepadamu, tiada lain dari berjanji setia kepada Allah. Allah meletakan tangan-Nya di atas tangan mereka. Tetapi barang siapa melanggar janji, tiada lain melanggar dari melanggar janji terhadap dirinya sendiri. Dan barang siapa menepati janji yang dijanjikannya kepada Allah, Allah akan memberinya pahala berlimpahan.” (QS : Al-Fath : 10).
Komitmen adalah perjanjian (keterkaitan) untuk melakukan sesuatu; kontrak (Junaedi AM dalam Kamus Politik Populer). “Janji adalah hutang”, itulah yang sering kita dengar, sebuah kalimat yang sudah sangat familiar ditelinga, tetapi pada dimensi aktualisasi, sepertinya kurang bersahabat di negeri ini. Diambilnya kata “hutang” sebagai konsekwensi dari sebuah janji menunjukan bahwa, begitu mahal dan berharganya sebuah nilai janji, artinya apabila kita mempunyai hutang dua ribu rupiah, maka saudara wajib membayar sesuai komitmen (tanpa dikurang atau ditambah :baca), apabila berjanji tunaikanlah sesuai waktu/tempat yang disepakati! Jika tidak, maka saudara harus bersiap-siap untuk dituntut (dunia-akherat:baca).
Obral janji (janji dijual murah: baca), biasanya kita mudah dapatkan pada musim dimana seseorang atau kelompok mengharapkan sesuatu (kepentingan), tetapi tidak diiringi dengan adanya sebuah komitmen, maka setelah keinginan/kepentingan tercapai, maka…janji tinggalah janji…karena janji mudah diucapkan, namun menepatinya adalah sebuah langkah menuju sukses.
Sebuah janji hakekatnya adalah sebuah harapan diri kita yang diberikan kepada orang lain, sehingga orang tersebut mempunyai harapan yang sama. Maka apabila tidak ditepati sesungguhnya kita sedang menghancurkan harapan dirinya dan orang lain, misalnya; sebuah perusahaan jasa pengiriman barang yang memberikan komitmen/janji bahwa barang si konsumen akan sampai tepat pada waktunya, akan tetapi lain yang terjadi setelah si konsumen mempercayakan jasanya, perusahaan tersebut tidak komit, sehingga barang tersebut menjadi terlambat. Maka yang jadi pertanyaan, akankah si konsumen tadi kembali mempercayakan jasanya pada perusahaan tersebut? Tentu tidak! Apabila ini yang terjadi, bukankah perusahaan tersebut telah menghancurkan harapannya yang ingin menjadi perusahaan “besar”. Dalam level mikro/individu, apabila pengingkaran ini terjadi, maka kredibilitasnya tentu akan hancur berbanding lurus dengan hancurnya harapan orang lain. Maka bagi siapapun yang ingin meraih kesuksesan bisnis atau apapun, mulailah dengan membangun komitmen!
Tidak dinafikan lagi bahwa Koran Harian Pagi Batam Pos adalah Koran dengan jumlah pembaca terbanyak dibanding Koran-koran yang lainnya di Propinsi Kepulauan Riau ini, saya berani mengatakan bahwa, pihak manajemen telah memulai hal ini dengan sebuah komitmen, komitmen untuk senantiasa meberikan kepuasan kepada pelanggan (pembaca :baca). Begitu juga dengan keberhasilan dakwah Nabi kita Muhammad SAW, beliau memulainya dengan sebuah komitmen! Buktinya adalah gelar al-amin, saft (shidiq, amanah, fathanah dan tabligh) telah disandang dan dikenang oleh ummatnya.
Dalam prespektif Islam, janji tidak hanya dianalogikan sebagai sebuah ikatan bisnis (baca:hutang), namun merupakan komitmen universal yang mengikat perjanjian dirinya dengan Tuhannya dan dirinya dengan sesama, yang apabila mengingkari tidak saja memporak-porandakan sebuah system bisnis, tetapi akan merugikan dirinya, baik didunia dan akherat. Dalam sebuah hadits, Rasulullah mencap para pengingkar janji sebagai orang yang munafik.
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga: (1) apabila ia berkata, ia berdusta (2) apabila berjanji, tidak dipenuhi (3) apabila diberi amanah, ia berkhianat” (HR: Bukhari dari Abu Hurairah ra)
Sebuah rumah tangga, seorang pemimpin perusahaan/pemerintahan, pelaku bisnis, setiap individu yang tidak memiliki komitmen, maka tunggulah saat kehancurannya! Bagaimanakah apabila janji tersebut diikrarkan dihadapan Rabbnya, lalu mengingkari? Innaa lillahi wainna ilaihi raji’un, rangkaian musibah demi musibah terus berdatangan menimpa negeri ini, seakan tidak akan berhenti pada satu titik musibah tertentu, apapun hasil analisa manusia, sebagai mukmin yang baik, tentunya merupakan suatu keniscayaan untuk “mengembalikan” semuanya kepada Allah Azzawa Jalla, sebagai manifestasi komitmen kita yang telah diikrarkan minimal dalam lima waktu sehari-semalam. “Asyhadu Anlaa ilaahha Illallaah, Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rosulullooh: Sesungguhnya aku bersaksi (berjanji) bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi (berjanji) bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya”. Ingat! Sekecil apapun janji yang kita ikrarkan, Allah Maha mengetahui, maka jadilah manusia yang senantiasa komitmen.
“Dan pada-Nya kunci-kunci (segala) yang ghaib. Tiada yang mengetahuinya selain Ia. Ia mengetahui apa yang di darat dan di laut. Tiada daun yang jatuh yang tiada diketahui-Nya. Dan tiada biji dalam kegelapan bumi, sesuatu yang segar ataupun sesuatu yang kering, yang tiada tertulis dalam Kitab yang terang.” (Qs : Al An’am : 59).
Marilah kita raih kesuksesan (dunia-akherat) dengan memulai membangun komitmen, dimulai dari yang terkecil, misalnya; janji kecil kepada keluarga, saudara dan sahabat, dimulai dari diri sendiri dan dimulai saat ini! (meminjam filosofi Aagym: baca). Insya’ Allah..