Selayang Pandang arrow Mauizhah arrow Menumbuhkan Ketahanan Konsepsional Ummat Islam
Hadirilah Kajian Tafsir Hadis Setiap Kamis Malam Seusai Solat Magrib, Kajian Keluarga Sakinah Setiap Hari Ahad Mulai Pk. 10.00 WIB, Kajian Kitab Kuning Setiap Hari Senin Bakda Ashar, Semua Acara dilaksanakan di Masjid Raya Batam Centre
Sudut Masjid
Selayang Pandang
Program Kegiatan
Kegiatan
Mauizhah
Konsultasi
Hubungi Kami
Foto Kegiatan
Tamu Kita
Informasi
Jadwal Shalat
Subuh 04:42
Fajar 05:55
Dzuhur 12:03
Ashar 15:10
Maghrib 18:07
Isya 19:16
PDF Print E-mail
Menumbuhkan Ketahanan Konsepsional Ummat Islam

Imunitas atau ketahanan daya tahan merupakan hal terpenting untuk kelangsungan hidup seseorang. Secara fisiologis, keberadaanya menjadi penopang kesehatan, yaitu dengan jalan menangkal, menolak, atau menghancurkan segala benda asing yang akan merusak  tubuh. Kemampuan tubuh untuk mempertahankan kesehatannya ini tergantung dari daya tahan tubuhnya.  Jika kemampuan daya tubuh lebih kuat dari benda asing yang menyerangnya maka tubuh akan tetap mampu mempertahankan kesehatannya, tetapi jika lebih rendah sudah barang tentu orang tersebut akan menjadi rentan terhadap berbagai penyakit dan ini bila dibiarkan bisa berakibat fatal.

Demikian halnya dengan ke-islaman seseorang. Kuatnya daya tahan Islam (mana’ah islamiyah) dari serangan-serangan jahiliyah kaum kuffar akan menunjukkan kualitas kepribadian Islamnya (Syakhshiyyah Islamiyyah), dimana hal itu tercermin pada seberapa jauh ia nerinteraksi dengan dien Islam. Semakin erat interaksinya dengan Islam maka syakhshiyyah Islmaiyyah-nya  pun semakin kokoh dan mantap, tetapi sebaliknya jika semakin lemah interaksinya berarti ia mudah terseret  arus kesehatan jahilliyahnya. Dengan demikian mempersiapkan untuk memiliki mana’anh islamiyyah adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim, khusus bagi pada da’I yang menjadi ujung tombak dakwah Islam. Allah swt berfirman: “ Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang(yang dengan persiapan itu) kamu akan mengantarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedangkan Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan di jaln Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya(dirugikan) (QS. Al-Anfal;60). Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam usaha membentuk mana’ah islamiyyah adalah  mencetak ketahanan konsepsional Islam pada qalb dan jiwa ummat. Ketahanan ini merupakan kekuatan asasi yang harus dibentuk di awal pembinaan yang terdiri atas ma’rifatul mabda marifatul fikrah, dan ma’rifatul minhal.

Ma’rifatul mabda’
Ma’rifatul mabda’ adalah pemahaman yang benar terhadap prrinsip-prinsip dasar Islam yang terkandung dalam kilmah syahadah dan sekligus sebagai aqidah ummat Islam. Keberadaan menjadi starting point (titik pangkal) dalm pembangunan peradaban Rabbani, sehingga membenarkannya menjadi suatu kewajiban dan memahaminya dengan benar merupakan infut yang mendasar amal perbuatan seorang muslim. Membenarkan kalimah tauhid Laa ilaaha illa Allah bukanlah sekedar pernyataan lisan atau mengucapkan berapa kali dalam sehari semalam, walau tampa mengetahui makna yang dimaksudkan. Akan tetapi yang dimaksud dengan membenarkannya adalah sebagaimana yang ditegaskan Ibnu Qayyum; “ Bahwasanya membenarkan Laa ilaaha illa Allah adalah menuntut adanya ketundukan dan pengakuan terhadap hak-haknya yaitu syariat islam yang merupakan rincian dari kalimah syahadah dan membenarkan seluruh berita-beritanya, mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan. Dan orang yang membenarkan dengan sebanarnya adalah orang yang melaksanakan hal tersebut”. Pemahaman yang demikianlah yang dapat menumbuhkan ketahanan konsepsional seorang muslim. Sebagaimana peradaban Islam yang pernah tegak dimasa lampau, dikarenakan para sahabat dan pengikut-pengikut Rasulullah telah mempunyai ketahanan ini. Hal ini tercermin  pada kemantapan aqidah islamiyyah-nya, yaitu berupa keimanan yang menghujam ke dalam lubuk hatinya dengan tiada sedikitpun rasa ragu, mereka mengetahui dan memahami makna yang dikandung dalam kalimah syahadah, dan kemudian melakasanakan segala konsekuensi yang dituntutnya. Inilah iman yang benar dan merupakan pilar utama dalam pembentukan ketahanan konsepsional ummat islam Allah swt berfirman. ” Artinya, sesungguhya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang beriman beriman kepada Allah dan rasullnya, kemudian mereka tidak ragu-ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.”(QS.al-Hujuraat;15).

Ma’rifatul fikrah
Fikrah disebut juga dengan istilah ide. Kumpulan dari berbagai fikrah yang dianut seseorang atau sekelompok orang untuk mengatur system kehidupan disebut dengan pedoman hidup (Way of live) atau bisa juga disebut dengan ideology. Sehingga seseorang yang mengaku menganut suatu pedoman hidup tertentu ia  akan dituntut untuk mengetahui dan memahami isi yang dikandungnya, kemudian merealisasikannya untuk kehidupan. Hal ini dimaksud agar seseorang tersebut dapat berjalan dengan aturan-aturannya, kemudian diharapkan dapat menciptakan ketaraturan hidup dan keseimbangan alam.  Sedangkan kemampuan untuk menciptakan keteraturan hidup dan keseimbangan alam ini adalah sangat tergantung dari sifat keuniversalan, kesempurnaan, dan kesemestaan pedoman hidup yang dianutnya.

Islam adalah satu-satunya pedoman hidup yang memenuhi sifat-sifat diatas. Islam mempunyai sifat kaamil (sempurna) syaamil (universal atau menyeluruh, mencakup seluruh aspek kehidupan), dan  alamiyah (untuk seluruh alam semesta). Karenanya Islam akan mampu menjalankan fungsinya untuk menciptakan keteraturan hidup dan keseimbangan alam, serta hanya Islam-lah yang dapat menjamin keselamatan manusia di akhirat kelak. Firman Allah Swt :  “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan nikmatKu, dan telah Ku-ridhai islam sebagai agamamu….”(QS.Al-maidah : 3).

“ Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melaikan untuk (menjadi) rahmat bagi sekalian alam semesta.”( QS. Al-Anbiya; 107). Sifat-sifat Islam sebagaimana tersebut di atas disebabkan oleh segala aturan yang dikandungnya terbebas dari campur tangan atau hawa nafsu manusia, namun senantiasa terjaga di bawah panduan rabbani sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hijr ayat 9, yang artinya: “ Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya”. Keteraturan hidup dan keseimbangan alam yang merupakan output dari pedoman hidup islam itu dapat terwujud  hanya jika pemeluk-pemeluknya mengetahui dan memahami isi kandungannya (syari’ah Islam, Al-Quran dan al-hadist), menerima dengan sepenuh hati terhadap seluruh ajarannya, kemudian dimanifestasikan dalam segala spek kehidupan; keluarga, masyarakat, pendidikan, dan segala aspek kehidupan lainnya. Dengan demikian tak dapat dibenarkan seseorang yang mempunyai sifat at-tab’idh yaitu mengambil sebagian aturan dari Islam sedang sebagian yang lain dari selainnya. Jika sifat ini terdapat dalam jiwa kaum muslimin selamanya keteraturan hidup dan keseimbangan alam yang dikehendaki, tidak akan terwujud dan hasilnya tidak lain berupa kepincangan-kepincangan kehidupan yang akan menjerumuskannya ke dalam jurang kesesetan. Hal ini disebabkan hanya seorang muslim yang berinteraksi dengan islam secara total yang dapat membedakan antara konsepsi dan ideology jahilliyyah dengan Islam, karena ia selamat dari arus jahilliyyah yang sesat itu. Firman Allah Swt: “ Dan tidaklah  patut bagi mukmin laki-laki dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentanf utusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata.”(QS.al-Ahzab:36). Karena itulah, pemahaman yang benar terhadap dien Islam  wajib ditanamkan pada jiwa dan fikrah kaum muslimin, agar mereka dapat menceburkan dirinya ke dalam Islam secara kaffah.

Ma’rifatul Minhaj

Adanya pemahaman yang benar terhadap prinsip-prinsip dasar islam akan mendasari dan menentukan kesahihannya dalam memahami isi kandungan Al-Qur’an dan hadits yang merupakan sumber fikrah ummat Islam. Selanjutnya akan menentukan pula terhadap kebenaran hasil pemikiran-pemikirannya dan ketepatan dalam mengaplikasikannya. Fikrah (ide) yang dibangun diatas dasar mabda yang benar, ia akan menghasilkan pemikiran-pemikiran islami yang dapat dijadikan pedoman untuk berinteraksi dengan islam secara benar dan kaffah. Baik itu interaksi yang bersifat vertical yaitu ta’abudi  yang berhubungan langsung dengan Allah swt ataupun horizontal yang meliputi semua aspek kehidupan, keluarga, masyarakat, pendidikan, politik, ekonomi, social, budaya dan aspek kehidupan lainnya. Selain itu, juga akan melahirkan pribadi muslim yang menpunyai kafa’ah tinggi, mampu merefleksikan pemikiran-pemikirannya secara sistematis yang berupa langkah-langkah kongkret dan terprogram (manhajiah) dalam mewujudkan muslim yang mempunyai double interaksi ini.

Selanjutnya, untuk membentuk pribadi dan masyarakat muslim yang mampu berinteraksi dengan Islam secara benar dan kaffah ini,  setiap pribadi muslim dituntut untuk mengetahui jalan yang mesti ditempuh cara melangkahnya, dan paham terhadap rambu-rambu yang mengarahkan, sehingga sampai pada tujuan. Untuk itulah, pengenalan terhadap pembawa risalah ini Rasullullah Muhammad saw dan memahami langkah-langkah  yang ditempuhnya sangatlah mutlak. Kemudian mencontohnya bagaimana Rasullullah melaksnakan dan mendakwahkan risalah ini. Dalam sejarah perjalanan dakwah Rasullullah (sirah nabawiyyah) itu di dalamnya banyak mengandung ibrah yang sekaligus menjadi prinsip-prinsip dasar yang mesti diikuti dan terapkan sesuai dengan dengan dan kondisi daerah masing-masing. Hal ini disebabkan sirah nabawiyyah merupakan bentuk kongkret dari aplikasi Al Quran dan alhadts. Sehingga orang yang mengikutinya wajib mencontohnya, baik dalam akhlak maupun cara membentuk akhlak tersebut, friman Allah Swt:“ Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu uswah (suri tauladan) yang baik bagi mu (yaitu) bagi orang yang mengaharap(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”(QS.al-Ahzab;21). Dengan demikian ma’rifatul minhaj merupakan pilar yang turut menumbuhkan ketahanan konsepsional. Hal ini wajib dimiliki dan ditanamkan pada setiap muslim.

Kahtimah
Dewasa ini kejahiliyyah telah merajalela tak ubah di saat islam sedang tumbuh, bahkan akhir-akhir ini mengindikasi lebih dahsyat di banding saat itu. Manusia banyak berbuat maksiat dan mengumbar hawa nafsunya sehingga banyak menimbulkan kerusuhan, kerusakan, dan kehancuran. Hal ini jika dibiarkan tentunya akan  semakin menghancurkan generasi-generasi muslim yang baru mulai tumbuh dan berkembang ini. Untuk itulah, mana’ah islamiyyah wajib ditanakan pada setiap pribdai muslim, dengan ketahanan konsepsional menjadi basis pertama dan utama yamng harus dimiliki dan dibentuk dalam setiap pribadi muslim. Dilakukan demikian sebab ketahanan ini merupakan kekuatan utama yang akan mendasari dan menopang tegaknya bangunan-bangunan Islam yang lebih besar, ma’rifatul mabda, ma’rifatul fikrah, ma’rifatul minhaj keberadaannya tidak boleh berdiri sendiri-sendiri, sebab kelemahan salah satu di antaranya akan menyebabkan lemahnya ketahanan konsepsional secara keseluruhan yang akhirnya dapat mengakibatkan terperosoknya generasi pada arus pemikiran jahiliyyah. Karena itu unsure-unsur yang menumbuhkan ketahanan konsepsional ini harus terintegrasi pada setiap muslim, agar ia mampu menopang bangunan dan menghalau serta melumpuhkan segala kekauatan jahiliyyah. Amien ya rabbal alamien.



 
< Prev   Next >
Masjid Kita
Calendar
Total Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday20
mod_vvisit_counterYesterday34
mod_vvisit_counterThis week218
mod_vvisit_counterThis month457
mod_vvisit_counterAll34000
Kontak Masjid