Manusia, Moralitas dan Kekerasan
Oleh: Ir. Kiagus Rozali*)
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baiknya penciptaan.” (At-Tin: 4).
“Tidak punya moral; seperti binatang!” itulah perkataan yang sering keluar secara spontan manakala menyaksikan hal-hal yang berbau kekerasan, penganiayaan yang berbuntut pada kematian ‘manusia’, tidak terkecuali yang menimpa seorang praja di bernama Cliff Muntu di IPDN yang disinyalir dilakukan para seniornya sendiri, atau kekerasan yang terjadi di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU Medan berdarah: baca) seperti yang diberitakan harian pagi Batam Pos (Kamis, 10 Mei 2007) atau rangkaian-rangkaian kekerasaan lainnya yang tidak pernah sepi diberitakan media masa. Sebagai ummat yang mengikat dirinya pada norma-norma masyarakat dan agama, nampaknya harus kembali bertanya, tetapi pertanyaannya bukan what (apa?) tetapi why (kenapa?) agar pertanyaan kita bukan hanya ‘pandai’ menyalahkan, akan tetapi akan lebih bermuatan pada pencarian sebab (identifikasi masalah) dan formulasi solusinya.
Aristoteles (384-322 SM) mengatakan bahwa manusia adalah binatang yang berpikir. Akal adalah sifat yang dimiliki manusia yang dapat memisahkan watak tidak manusiawi (sub human nature). Sementara Plato (428-248 SM) pun berasumsi bahwa manusia adalah mahluk berakal, dimana akal berfungsi mengarahkan budi pekerti. Sedangkan moralitas terambil dari kata moral yang artinya: Kesusilaan, budi pekerti, akhlak, jadi moralitas adalah segala sesuatu yang berhubungan dengannya (Kamus Populer karya: Junaedi AM).
Senada dengan dua filosuf Yunani di atas, hal yang sama ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an. Hanya saja, secara tekstual, Al-Qur’an menggunakan kata insaan, basyar, naas serta Bani Adam untuk menyebut nama lain manusia. Jadi dapat didefinisikan bahwa hakekat manusia sebenarnya sama seperti binatang. Yang membedakan diantara keduanya adalah otak dan nafsu. Manusia menggunakan nalar dalam menjalankan aktivitasnya, sedangkan binatang hanya mengandalkan nafsu. Dalam hidup bermasyarakat, manusia diatur dalam norma-norma agama dan masyarakat; sedang binatang tidak.
Perbedaan yang timpang ini menjadikan manusia lebih sempurna ketimbang binatang, artinya, manusia mempunyai kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki mahluk lain (sebagaimana dijelaskan dalam QS : at-Tin:4). Manusia mempunyai potensi dalam dirinya untuk mengetahui pengalaman hidup, berpikir ilmiah, dan mudah menerima petunjuk agama.
Keunggulan manusia atas mahluk lain, termasuk mahluk yang disebut malaikat, tersirat dalam kisah Adam yang diceritakan dalam Surat Al-Baqarah (2) :30-39. ketika Allah SWT hendak menciptakan Adam, para malaikat protes: Kenapa Allah menciptakan mahluk yang namanya manusia, toh nantinya akan membuat kerusakan dan berbagai konflik di bumi? Tapi Allah SWT melihat sisi lain dibalik itu semua. Kemudian Allah SWT mengajarkan kepada Adam tentang ilmu pengetahuan (sains) yang tidak diketahui malaikat. Lantas Allah SWT menanyakan: apakah kau tahu tentang benda-benda itu? Namun malaikat hanya diam, membisu.
Dialog antara malaikat dengan Allah SWT tersebut semakin mengukuhkan esensi penciptaan manusia di bumi. Adam diberi sesuatu yang menjadikannya unggul, yaitu kemampuan untuk mengetahui nama-nama benda. Dengan demikian, manusia bisa mengakumulasikan pengalamannya secara sistematis sehingga menjadi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itulah yang menjadi dasar manusia untuk bisa mengemban tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Sebagai khalifah, manusia memiliki kemampuan untuk mengolah alam semesta dan segala isinya. Segala tindak-tanduknya diharapkan bisa mencerminkan citra Illahi dalam kehidupan sehari-hari sebagai aktualisasi kecintaannya pada Sang Pencipta. Dalam konteks inilah, moral mempunyai peran yang sangat signivikan untuk tetap menjaga keseimbangan perilaku manusia . dengan bekal moral, manusia bisa mengetahui yang buruk, bisa membedakan dan menyadari konsekuensi pilihan sikap dan tindakannya. Moral berfungsi mengarahkan kepada tujuan-tujuan tertentu, dengan cara-cara yang diinginkan. Oleh karenanya, moral bisa membawa manusia kepada kemajuan dalam kehidupan yang lebih baik dan dinamis.
Dengan moral, manusia dapat memainkan peran sosialnya secara baik; bagaimana dalam hidupnya manusia dapat menciptakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran bumi, serta bermanfa’at bagi sesama mahluk lain, lingkungan, dan dirinya sendiri. Sebab eksistensi manusia dan esensi manusia hanya dapat dimaknai dalam bentuk agredasi hubungan-hubungan tersebut. Dalam diri manusia terdapat potensi baik dan buruk. Kalau potensi baik itu dapat dioptimalisasikan dalam kehidupannya, maka insan kamil layak disandangnya.
Akan tetapi eksistensi manusia yang tercipta dalam kondisi yang baik tersebut bisa berbalik berada dalam posisi yang amat rendah jika tidak beriman dan beramal sholeh. Seperti Firman Allah SWT : “Kemudian Kami kembalikan ia serendah-rendahnya, kecuali orang yang beriman dan beramal sholeh…(QS: at-Tin: 5-6).“ Ayat ini dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran moral manusia , agar ia menjadi mahluk yang lebih baik, baik dari segi jasamaniayah maupun rohaniyah. Tanpa landasan moral, ia akan bertindak diluar batas kemanusaiannya. Ia tidak bisa menghargai kediriannya sebagai mahluk yang mulia. Ia akan jauh dari kasih sayang Rabb Sang Pencipta, yang selanjutnya masuk dalam kubangan dosa. Ia tidak akan bisa menggapai kehidupan yang hakiki kelak.
Rasanya sudah jemuk menyaksikan kasus-kasus kekerasan, penganiayaan sampai pembunuhan super sadis yang dapat kita lihat dan dengar di media-media cetak maupun elektronik hampir setiap detiknya, baik yang terorganisir ataupun dalam konteks individu, ini merupakan bukti riil bahwa moralitas begitu mahal harganya di negeri ini. Maka kita sebagai bagian dari komponen keluarga, masyarakat, bangsa dan negara adalah sebuah ‘kewajiban’ untuk menjadikan akhlak sebagai satu-satunya ‘fondasi’ sebelum kita ‘mencari’ fondasi-fondasi’ lainnya, dengan cara keterlibatan semua pihak (termasuk pemerintah) untuk medukung dan menopang kegiatan-kegiatan yang bersifat pemahaman terhadap nilai-nilai agama. Artinya masyarakat harus dibuat cerdas dalam menilai dirinya, bukankah manusia akan berjalan (baca:melakukan sesuatu) sesuai dengan apa yang dia fahami (dalam arti/konteks yang mendasar dan menyeluruh)).
“Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.” (QS : Shaad : 46) Dan Firman Allah dalam QS : Alhujuraat : 13
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Kalau kita melihat terminologi manusia dan moral, adalah satu kesatuan kata yang utuh (tidak dapat dipisahkan:baca), artinya ketika manusia ‘melepaskan’ moralitasnya, maka sejatinya bertanya berulang kali: apakah “manusia” tersebut layak dikatakan “manusia?” Bukankah kejadian manusia berasal dari sperma yang hina dengan mengingat segala kelemahannya, patutkah menyombongkan diri dan berbuat semaunya? Apakah kita mau disamakan dengan kera sebagaimana teori evolusi yang dikemukakan C. Darwin? Maka sudah selayaknya moralitas menjadi barometer dan tuntunan manusia untuk menyadari tujuan kehidupan, bahwa ia diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi, memakmurkannya demi kemaslahatan dan pencapaian ridho Allah SWT. Semoga. Wallahu’alam.