Luruskan Niat Menuju Keikhlasan
Oleh: Ir. Kiagus Rozali *
“Siapa saja yang menghendaki kehidupan dunia yang sesaat, akan Kami segerakan pula ganjarannya menurut kehendak Kami, kepada siapa yang dikehendaki, kemudian Kami jadikan neraka sebagai tempatnya, yang membakarnya, sebagai orang yang terhina dan terusir. Sebaliknya siapa saja yang menghendaki kehidupan yang hakiki di akhirat, dan bersungguh-sungguh dalam upaya mencapainya sedangkan dia dalam keadaan sebagai seorang mukmin, mereka itulah yang upaya mereka akan dibalas dengan pujian dari Allah” (QS. Al-Isra’: 18-19)
Dalam ayat Al-Qur’an tersebut mengambarkan dua (2) golongan manusia yaitu yang berhasrat kepada kepentingan duniawi dan kelompok yang menjadikan akhirat sebagai tujuan akhir dan bersungguh-sungguh dalam pencapaiannya, maka kata kuncinya adalah motivasi niat dan tujuan yang ingin dicapai.
Ada beberapa fakta yang masih segar dalam ingatan kita ketika muncul istilah “Korupsi berjamaah”, kemudian dalam keseharian pada tataran bawah tidak kalah kompleks dan ironis, ketika kita datang ke Masjid untuk melakukan ibadah kehilangan sandal/sepatu dan barang berharga, padahal dalam pikiran kita berprasangka baik, masa sih ditempat ibadah tidak aman?
Dari ilustrasi tersebut sering kita bertanya, kenapa bisa begitu? melakukannya untuk apa? besarnya yang di korupsi, siapa yang korupsi? Namun kalau kita lihat dari sisi yang dalam dan mengembalikan hal tersebut kepada ayat suci al-Qur’an diatas, kita telah mendapatkan jawaban! bahwa mereka termasuk pada kelompok yang pertama yang mendahulukan kepentingan dunia, lantas bagaimana cara masuk pada kelompok kedua?
“Jangan sampai, hai Muhammad engkau menampik mereka yang menyeru Tuhannya untuk melakukan ibadah pada pagi hari dan petang agar datang kepadamu yang hanya menghendaki untuk mencari keridhaan-Nya. (QS. Al-An’am:52)
Ada dua kata yang penting pada ayat tersebut yaitu melakukan ibadah dan Ridha Allah, maka kepasrahan diri kepada Allah adalah men-ikhlaskan tujuan amal kepada Allah dan menjalankannya sesuai dengan Sunnah Rasul-Nya.
Seorang tokoh ahli ma’rifah rabbani bernama Sahl’Abdullah at-Tustari menegaskan “Seluruh manusia dalam keadaan terlena, kecuali mereka yang berilmu, begitupun orang yang berilmu dalam keadaan kebingungan kecuali orang yang beramal, demikian juga amal akan sia-sia jika tidak disertai keikhlasan”
Sungguh tinggi nilai ikhlas dihadapan Allah, karena apapun yang dikerjakan (baik sekalipun) merupakan kesia-siaan belaka, maka kalau kita kembali kepada topic pembahasan tidak ada kata lain suatu niat yang sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan benar dapat bernilai ibadah jika mengharapkan keridhaan Allah SWT semata.
Keikhlasan memberikan kekuatan spiritual yang luar biasa guna mendapatkan sandaran dari cita-cita luhur yang ingin diraih dengan mengesampingkan keinginan-keinginan yang lain, sebagai contoh Seseorang yang memiliki keinginan untuk meraih kekayaan materi, mengapai kedudukan, gelar dan kepemimpinan sesungguhnya adalah orang yang lemah, tatkala jiwanya diliputi perasaan takut kehilangan sumber penghasilannya dapat dengan mudah terpelosok pada jalan yang tidak benar dan menghalalkan segala cara, Berbeda dengan seorang yang mencurahkan jiwanya untuk Allah dia akan kuat menghadapi tantangan dan senantiasa menjaga perbuatannya dijalan Allah..
Keikhlasan berdampak positif pada semangat kerja, Seseorang yang melakukan pekerjaan demi suatu popularitas , kedudukan dan materi akan menunda – nunda dan merasa berat hatinya saat mengetahui tujuan yang didambakan jauh dari kenyataan, bahkan dapat menghentikan pekerjaannya saat sang atasan meninggal atau turun jabatannya, berbeda dengan seseorang yang beramal demi Allah, dalam melakukan pekerjaan dilakukan dengan semangat dan tidak ada kata malas, dia tidak akan berhenti , tergoda atau menunda-nunda, karena kita berbuat bukan karena makhluk melainkan tujuannya mencari kerhidaan Allah. Oleh karena itu selama diniatkan untuk Allah semuanya akan terus berlangsung dan berkelanjutan (Kekal), setelah itu kita serahkan sepenuhnya kepada Allah, biarkan Allah yang mengatur semuanya, karena Allah mengatur alam semesta beserta isinya dan mengatur pergerakan hati manusia.