Selayang Pandang arrow Mauizhah arrow Ketulusan dan Kepolosan
Hadirilah Kajian Tafsir Hadis Setiap Kamis Malam Seusai Solat Magrib, Kajian Keluarga Sakinah Setiap Hari Ahad Mulai Pk. 10.00 WIB, Kajian Kitab Kuning Setiap Hari Senin Bakda Ashar, Semua Acara dilaksanakan di Masjid Raya Batam Centre
Sudut Masjid
Selayang Pandang
Program Kegiatan
Kegiatan
Mauizhah
Konsultasi
Hubungi Kami
Foto Kegiatan
Tamu Kita
Informasi
Jadwal Shalat
Subuh 04:42
Fajar 05:55
Dzuhur 12:03
Ashar 15:10
Maghrib 18:07
Isya 19:16
PDF Print E-mail
Ketulusan dan Kepolosan
Oleh: Jaafar Usman Al-Qari

Sungguh, di muka kaca orang boleh sungkan sambil menyembunyikan cacat diri dalam gumam keterpesonaannya, meski tak sanggup menahan geli, malah mungkin keputusasaan. Tetapi, di atas segala-galanya, boleh jadi, keterpesonaan itu hanyalah ekspresi paling palsu dari rasa minder dan rendah diri di hadapan kaca keterbukaan. Boleh jadi keterpesonaan itu hanyalah bagian dari “hiburan semu” atas ketidak utuhan wajah sang pemilik, memantul dari permukaan cermin yang juga tak utuh lagi. Boleh jadi, keterpesonaan ini hanyalah respon genit yang paling sportif, sambil mendemontrasikan sikap besar kepala dan tinggi hati. Boleh jadi keterpesonaan ini adalah buah dari kesadaran tentang “ego” yang tak tertundukan, memancar dari sikap mental “menang sendiri”. Alangkah memuakkan!

Rasanya hidup menjadi serba tak enak, manakala orang mesti “dipaksa” membicarakan diri sendiri setelah terlebih dahulu “ditelanjangi”. Apa artinya? Hukum kehidupan memang selalu adil, meski memungkinkan tidak secara sengaja diperjuangkan. Di alam nyata, siapa pun boleh berbuat curang kepada sesamanya, bahkan terhadap dirinya sendiri. Tetapi, di alam akhirat sana, kecurangan mu itu akan terkuak lansung oleh Allah, tercatat lengkap oleh malaikat Rakib dan Atid, terdata rapi oleh seluruh anggota badanmu (QS. 36: 65).

Dunia ini adalah cermin besar yang kita miliki, yang akan memantulkan apa saja yang terjalani. Keadilan dan kecurangan dapat dengan mudah terkenali di dalamnya, kalau kita rajin bercermin. Oleh karena itu nikmati dan telitilah dengan penuh kewaspadaan dan kearifan. Sehingga, kamu tidak menjadi korban dari apa yang kamu lihat dan miliki itu. Tidak menjadi seperti fir’aun, Hitler, dan para dictator lainnya yang pernah gagal dalam menelanjangi diri sendiri, lantas memaksa rakyatnya “menelanjangi” diri mereka kemudian mengirimkan petikematian buat mereka? Bukankah itu pertanda bahwa, barangsiapa tidak adil terhadap diri sendiri, dia bakal diadili oleh rakyatnya, dan barangsiapa tidak ramah terhadap rakyatnya, dia bakal “dimarahi” oleh Tuhannya? Maka, membicarakan diri sendiri memang berat, namun ia juga persyaratan. Syarat untuk tegak secara terhormat.

Dunia ini memang penuh konflik, tetapi janganlah kita membiarkan konflik berkepanjangan lalu membuat kita terlelap dalam mimpi-mimpi yang memabukkan. Bila ini yang terjadi, maka yang akan muncul dibenak kita adalah, ‘Anjing menggonggong kafilah terus berlalu,” Bagi kita, berlaku “logika kekuatan” dan bukan “kekuatan”, dan bukan “kekuatan logika”. Kita bakal melihat konflik itu dari siapa yang mengatakan, bukan apa yang dikatakan. Itulah ciri ketertutupan.

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa kita diam saja ketika menyaksikan ketidak adilan di tengah-tengah masyarakat yang perlahan-lahan mulai menemukan bentuk terbaiknya untuk meledak? Mengapakah kita tidak mau bicara sementara di depan matamu terjadi kezaliman politik, pembantaian etnis agama, dan penghancuran harkat kemanusiaan antar sesama umat Tuhan yang kadang melibatkan orang-orang tak bersalah? Mengapakah hati masih juga membatu mendengarkan jerit kepilauan tangan-tangan kecil tak berdaya yang merupakan korban paling dahsyat dari kerisis ekonomi bangsa, lantas membuat masa depan mereka menggapai-gapai dalam kegelapan, dan tak tahu lagi arah kehendak yang dituju, sementara kita sibuk mengurusi mereka yang dikeritik banyak orang sebagai manusia tak tahu diri itu.

Peristiwa demi peristiwa menujukkan kepada kita, betapa ketidak adilan yang diperbuat tidak akan terlepas dari pantauan Tuhan dan akan mendapat balasan dari-Nya. Karena Tuhan tidak akan pernah mati dalam kebersamaan dengan kematian hati nurani penjahat kemanusiaan. Janganlah pernah meragukan akan kehadiran Tuhan di sisi umatnya, apalagi bagi mereka yang tertindas dan teraniaya. Tuhan akan selalu hidup di hati mereka yang bersih, di jiwa mereka yang jujur dan di nurani mereka yang tulus. Dan Tuhan selalu hidup melalui tangan-tangan mereka yang kurus tak terurus, melalui kekuatan air mata mereka yang diyatimkan, melalui kefasihan lidah mereka yang dimiskinkan. Di saat itulah mereka yang merasa senasib sepenanggungan akan berjuang bersama-sama untuk menuntut hak-hak mereka yang selama ini disia-siakan. Dan kepada mereka dengan kualifikasi yang sama, hendaklah kita berhati-hati. Karena antara mereka dengan Tuhan hampir-hampir tidak ada hijab. Segenap do’a mereka bakal tumbuh menjadi “rahmat” bagi kita, jika kita tampil sebagai Musa, Isa atau Muhammad SAW buat mereka.

Dan sebaliknya seluruh keluhan mereka akan berubah menjadi “bencana” bagi kita, kalau kita hadir sebagai Fir’aun, Dajjal atau Abu Jahal di hadapan mereka. Dan kalau sudah begini, pilihan terbaik sepenuhnya berpulang kepada kita sendiri. Karena tatkala kecemasan kian mewabah, ketika keputus-asaan kita menjamur, sa’at itulah kata-kata tidak lagi bermakna, pidato tak lagi berguna. Yang dibutuhkan adalah kerja nyata buat mereka. Karena hidup hari ini bagi mereka, bersama nasi putih dan singkong bakar, jauh lebih berharga daripada makan roti bakar dan keju bule, namun hanya ada dalam janji. Yang dibutuhkan adalah kepastian masa depan untuk mencapai hidup dengan secercah karunia yang mencerahkan.

Kalau itupun tak bias diperoleh, maka janganlah disalahkan jika mereka harus berteriak di jalan: mengapakah kalian bicara banyak atas nama kami, tetapi justeru kami kalian terlantarkan? Padahal jelas, Nabi menrangkan, bahwa orang yang paling dicintai Tuhan adalah mereka yang paling banyak bermanfaat bagi manusia. Dan amal yang paling utama di antara manusia adalah menggembirakan hati orang Mukmin, menghapus rasa lapar orang-orang miskin, membantu mengeluarkan kesulitan orang-orang lemah dan teraniaya. Manusia demikian, menurut Nabi SAW akan dikukuhkan kakinya oleh Tuhan di atas jembatan siratal mustakim menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Waallahu a’lam.

 
< Prev   Next >
Masjid Kita
Calendar
Total Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday26
mod_vvisit_counterYesterday34
mod_vvisit_counterThis week224
mod_vvisit_counterThis month463
mod_vvisit_counterAll34007
Kontak Masjid