Selayang Pandang arrow Mauizhah arrow Salat Menuju Kesuksesan dan Kebahagiaan
Hadirilah Kajian Tafsir Hadis Setiap Kamis Malam Seusai Solat Magrib, Kajian Keluarga Sakinah Setiap Hari Ahad Mulai Pk. 10.00 WIB, Kajian Kitab Kuning Setiap Hari Senin Bakda Ashar, Semua Acara dilaksanakan di Masjid Raya Batam Centre
Sudut Masjid
Selayang Pandang
Program Kegiatan
Kegiatan
Mauizhah
Konsultasi
Hubungi Kami
Foto Kegiatan
Tamu Kita
Informasi
Jadwal Shalat
Subuh 04:43
Fajar 05:55
Dzuhur 12:04
Ashar 15:13
Maghrib 18:08
Isya 19:16
PDF Print E-mail
Salat Menuju Kesuksesan dan Kebahagiaan

Shalat adalah suatu kebutuhan Psikologis. Suatu hal yang tak perlu diragukan lagi, bahwa untuk dapat hidup dengan kehidupan baik, manusia membutuhkan factor moral yang mampu mengekang kecendrungan liarnya dan mampu mencegah dirinya dari sikap patuh kepada kepada tabiat hewaninya. Dan sahalat itulah yang mendorongnya agar terbebas dari perangai kebinatangan dan selanjutnya berprilaku dengan moralitas ilahiyah, pada tataran kesucian dan keluhuran budi tertinggi yang mampu  dibayangkan oleh nalar.

Sedangkan dari sisi psikolgis, sebagai manusia apabila ruhnya tidak berhubungan dengan penciptanya akan terlibat dengan jelas gejala-gejala kegelisahan dan kemurungan saat dirinya mendapatkan musibah dan mengalami kegagalan dalam cita-citanya, sehingga tidak jarang untuk mengatasi penderitaannya itu, ia melarika diri kepada obat-obatan dan minum-minuman. Tidaklah perjudian dan pelacuran yang dilakukan seseorang untuk memuaskan biologisnya, melainkan sebagai bentuk pelarian dari kepedihan jiwa yang dideritanya. Sementara shalat dapat membuka peluang kepada seseorang untuk mengajukan permohonan kepada penciptanya tentang apa saja yang diinginkannya, suatu perkara yang dapat meringankan perasaannya dan menciptakan keyakinan di dalam dirinya untuk menaati perintah-perintah Allah yang bermamfaat, seperti kesabaran dan ketetapan hati. Di samping mengajak supaya berlindung kepada Allah saat terjadi badai bencana untuk meminta bantuan kekuatan dan mencari tindakan terbaik dalam memikul beban hidup, sehingga saat itulah jiwa manusia merasakan hembusan semangat ketentraman makro yang dapat membantunya dalam mengatasi semua  beban yang susah payah yang ditanggungnya.

Penelitian tentang mentalitas manusia pun menetapkan adanya mamfaat shalat dan ibadah. Di antaranya,  seperti yang disimpulkan oleh badan penanganan masalah penganguran di kota New York, Amerika yang telah melakukan psikotes terhadap lebih lima belas ribu tunawisma pria dan wanita di kota tersebut. Sehingga melalui proyek ini dimungkinkan untuk mengarahkan setiap individu kepada profesi yang cocok dengan minat dan keahlian masing-masing. Sebagai panasehat ahli dalam proyek ini, ditunjuk Dr. Henry Lank, salah seorang pakar ilmu jiwa empiris, yang secara langsung melakukan  pengawasan terhadap studi statistik yang disimpul dari sepuluh ribu peserta tes yang telah berhasil dicatat data-data pribadi mereka secara lengkap. Dari hasil penelitian ini Dr Henry Lank, berkomentar, “ sekarang secara pribadi, saya mulai mengerti tentang urgensi keyakinan beragama dalam kehidupan manusia. Dari hasil psikotes ini, saya berhasil mencatat suatu poin penting, yaitu : bahwa tiap-tiap individu yang memeluk suatu agama, atau sering berkunjung ke tempat-tempat ibadah, ternyata memilki kepribadian yang lebih kuat dan lebih unggul dari pada individu yang tidak beragama, atau tidak pernah menjalani ibadah apa pun.

Kekhusyu’an dalam Shalat dan Manfaatnya

Allah Swt. telah menetapkan di antara tujuan dari shalat ialah memperoleh kemenangan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Firman Allah Swt. “ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman(yaitu) orang-orang yang khusyu’ di dalam shalatnya (al-Mukmin : 1-2)”.

Orang yang khusyu’, yaitu oaring yang ahtinya tunduk dan didominasi rasa cemas, takut dan  harap saat memperhatikan kebesaran Allah dan keagungan-Nya; yang mendisiplinkan anggota-anggota tubuhnya sesuai dengan sikap tunduknya itu sehingga tidak berpaling dan tidak pula bergerak selaian pergerakan yang telah ditentukan di dalam shalat. Karena itu Rasulullah Saw bersabdda saat menyaksikan seseorang yang main-main di dalam shalatnya, “ Seandai hati orang ini khusyu’ niscaya ikut khusyu’ pula anggota badannya.” Yakni menjadi diam dan tenang. Khusyu’ ditetapkan oleh sebagian ulama, termasuk di antar penopang diterimanya shalat di sisi Allah. Karena orang yang mendirikan shalat, melakukan aktivitas ibadah melalui bacaan al-quran di dalam shalatnya, sedangkan Allah telah memerintahkan agar menghayati al-quran ketika membacanya, berdasarkan firmannya, “ Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-qur’an ataukah hati mereka terkunci?”(Muhammad : 24). Maksudnya, apakah mereka tidak memahami al-qur’an dan menghayati artinya, ataukah hati mereka tertutup tidak bias memahaminya, seakan-akan di sana ada kunci yang mengahalangi sampainyaal-qur’an di dalam hati. Sebagimana firman Allah Swt, “ dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” ( Thaha  : 14) lalai adalah anonim dari kata ingat, jadi siapa yang lalai dalam shalatnya bagaimana bias menjadi khusyu’ dan dapat dianggap mendirikan shalat?

Firman Allah Swt, “ Hai orang-orang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.”      (an’Nisa : 43) Allah Swt. melarang orang yang sedang mabuk mendekati shalat, karena orang tersebut tidak mengetahui dan tidak sadar terhadap apa yang diucapkannya, atau dalam pengertian lainnya kehilangan khusyu’ dari dirinya. Keadaan ini sinkron sekali denga orang lalai yang tenggelam dalm kesibukan pikirannya tentang diri dan dunianya.
Lalu tentang sifat shalat, Allah Swt. berfirman, “ Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (al-Baqarah : 45) artinya, shalat itu sesungguhnya sangat berat bagi jiwa dengan pengecualian pada orang-orang yang hatinya khusyu’ dan bersungguh-sungguh untuk mencapai kedekatan posisi kepada Allah, karena menyibukkan diri dalam ibadah berarti berpindah dari dunia yang penuh hiruk pikuk dan kegamangan menuju ke alam malakut yang paling tinggi. Dan tentu saja, hal ini akan mengahasilkan sempurnanya kelezatan dan kebahagiaan.

Dikisahkan bahwa Imam Abu Hanifah ketika ia sedang shalat, tiba-tiba ada seekor ular jatuh dari atas atap yang membuat orang-orang di sekitar itu kaget dan berhamburan pergi, namun Abu Hanifah tetap tenggelam di dalam shalatnya tidak merasakan apapun. Penjelasannya sederhana, bahwa apabila seseorang tengah berada di hadapan seorang penguasa yang amat berwibawa, dan memilki kekuasaan yang tidak terbatas, sedangkan orang yang bersangkutan merasakan betul adanya wibawa dan kekuasaan yang sangat besar itu, terkadang perasaan itulah yang menguasainya sehingga dirinya menjadi lengah dari hal-hal yang lain, sampai-sampai berangkali ia sedang lapar tetapi ia lupa akan laparnya.

Untuk mencapai kekhusyu’an diperlukan suatu kemampuan serta latihan terus-menerus untuk berbuat kebajikan dan diperlukan sebuah kesabaran yang sangat tinggi. Sebagaimana di ungkapkan oleh Willem Molton (seorang Neoropsychologist) : “ kemampuan ini dihasilkan melalui latihan, sedang latihan itu memerlukan kesabaran.”


Shalat Mencegah Kekejian dan Kemungkaran

Shalat yang diperintahkan pelaksaannya di dalam islam yang berisi muatan muraqabah kepada Alla, serta siakp berdiri dan sujud,juga yang mengandung pengertian pendekatan diri kepada Nya, akan mengikat orang yang shalat dengan Sang Khaliq, dan menanamkan rasa keluhuran kedudukannya dalam pandangan dirinya, sehingga terlihat pengaruh baiknya, bahwa dirinya tidak pernah menyukai keburukan-keburukan. Setiapkali ada bisikan di dalam dirinya yang menganjurkan berbuat kemungkaran atau keburukan lainnya, berserulah suatu panggilan dari kedalaman jiwanya, sebagiman firman Allah Swt, “ Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tidak akan beruntung.” (Yusuf :23).

Allah Swt Dia telah bersikap baik kepada manusia dengan memberikan nikmat wujud, kemudian menganugrahinya pula kenikmatan yang banyak, hidayah yang membawa faedah, serta memuliakannya melalui taqarrub kepada Nya dengan shalat, maka setelah itu bagaimana dirinya bisa berbuat durhaka terhadap pencitanya. Inilah sebagian diantara pengaruh positif shalat terhadap prilaku orang beriman yang dilukiskan dengan sangat bagus di dalam al-quran melalui friman Allah Swt yang berbunyi, “ Dan dirikalah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah sangat besar(amal) dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Al-Ankabut:45)

Renungkanlah ayat ini, engkau akan mendapatkan bahwa Allah Swt mengatakan “dirikan shalat”, tidak mengatakan, “shalatnya”, karena mendirirkan shalat sesuatu  itu berarti mengerjakannya secara sempurna, yang maksudnya dapat terealisasi meleui sikap menghadapkan diri kepada Allah secara total yang di sertai dengan kekhusyu’an hakiki dan bayangan akan rahmat serta keagungan-Nya, dalam suatu sikap yang dapat memindahkan jiwa dari seluruh kotoran duniawi ke alam yang penuh kesucian. Sebab, orang yang shalat jika ia benar-benar mendirikan shalatnya dalam pengertian hakiki, niscaya akan kecillah di depan matanya dunia dan segala tipu dayanya dan dunia pun tidak akan mampu menipunya dengan keindahan dan keinginan rendahnya. Sebab itulah kita temukan di dalam al-qur’an, pada setiap termpat yang di situ Allah Swt menyanjung perbuatan shalat atau mengajurkan untuk melakukannya, selalu disebut dengan ungkapan “ iqomah(penegakan) misalnya pada firman-Nya,” Dan mereka mendirikan shalat”, atau “ dirikanlah oleh kamu akan Shalat”, dan tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an dengan bentuk ungkapan “Al-Mushallin” (orang-orang yang shalat)” secara terpisah, selain untuk ayat yang ditujukan kepada orang-orang munafik yang dikatakan Allah Swt dalam firmannya,” Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya (Al-Maa’un: 4-5)

Al-Qur’an mengkhusukan shalat dengan ungkapan ‘iqomah’ sebagai peringatan bahwa yang dimaksud di dalam melakukannya adalah harus memenuhi hak-hak serta persyaratannya, bukan hanya sekedar mengerjakan rupanya saja. “Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar(keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain)” (Al-Maa’un : 6).

Artinya, bahwa dzikir kepada Allah merupakan unsure terbesar yang terkandung di dalam shalat, dikarenakan dzikir dapat melembutkan hati dan melunakkannya, serta mendatangkan sifat-sifat terpuji yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan hidup sebagai manusia dan kejayaan masyarakat. Tetapi jika hati kosong dari dzikir kepada Allah, niscaya halnya itu sama dengan sebatang pohon yang sedang berbuah, yang diputuskan aliran air kepadanya, sehingga akar-akarnya menjadi kering dan dahan-dahannya pun menjadi layu, yang tidak dapat digunakan selain untuk kayu bakar.

Uswatun Khasanah


Bahwa Nabi sulaiman AS, berpergian, menjelajah kawasan diantara langit – bumi, hingga tibalah ia di samudra yang dalam, ombak besar terlihat olehnya. Lalu ia berikan aba-aba supaya angin berhenti, dan saat itu juga secara serentak berhenti mematuhi perintahnya. Kini Jin Ifrit menerima giliran supaya menyelami kedalaman samudra tersebut, ia menyelam sampai kedasarnya. Maka di dasar samudra, terlihat olehnya sebuah quba mutiara putih yang rapat, tiada berlobang. Kemudian ia membawanya keluar, da ia serahkan ke hadapan Raja Sulaiman AS. Raja sangat kagum memandangnya dan berdoa. Maka dengan doanya bergeserlah daun pintunya, terbukalah quba itu, dan lebih mengagumkan lagi ketika di dalamnya terdapat seorang pemuda yang bersujud. Ketika di Tanya oleh Nabi Sulaiman:” Siapakah anda dan dari jenis malaikat, jin ataukah manusia? Jawabnya “ Aku adalah dari jenis bangsa manusia. Lalu, amal apakah yang dapat mengangkatmu stinggi ini? Jawabnya” Dengan berbakti kepada kedua orang tua. Di saat menginjak lanjut usia, ibu kugendong di atas punggungku, dan di saat itulah, terdengar darinya doa berikut;” Ya Allah, berikanlah sifat qonaah kepadanya(dimaksud adalah anaknya), dan berikan pula tempat untuknya nanti sepeninggalanku, bukan di bumi dan bukan pula di langit.”

Kemudian sesudah ia tiada, maka aku berlibur di pinggir pantai, dan terlihatlah sebuah quba mutiara, aku menghampiri dan masuk ke dalamnya, quba bergerak, berlaju dengan izin Allah Swt. dan aku pun tak tahu pasti, di udara atau di bumikah aku berada, namun aku tetap memperoleh riski dari Allah yang disediakan di dalamnya. Nabi Sulaiman bertanya? “ dengan jalan apa Allah memberi rizkimu? Jawabnya “ Saat perutku terasa lapar, Allah ciptakan sebuah pohon berbuah,  maka Dia berikan buah-buahan tersebut kepadaku. Tanya Nabi Sulaiman lagi : Minumnya? Saat aku terasa haus, keluarlah dari pohon tersebut, air putih melebihi susu, dan manis melebihi madu, serta dingin melebihi salju. Kemudian bagaimana pengetahuan anda tentang siang dan malam? Jawabnya : “ ketika terbit pajar shubuh, berubahlah quba menjadi putih warnanya, dengan ini aku tahu pasti sautu bukti siang hari; dan saat matahari terbenam, berubahlah quba menjadi gelab, hingga aku tahu pasti suatu bukti malam hari. Mengakhiri dialognya dengan Raja Sulaiman as, ia panjatkan doa kepada Allah Swt, lalu menutuplah pintunya, dan pemuda itu menetap di dalamnya seperti semula.



 
< Prev   Next >
Masjid Kita
Calendar
Total Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday22
mod_vvisit_counterYesterday42
mod_vvisit_counterThis week64
mod_vvisit_counterThis month303
mod_vvisit_counterAll33846
Kontak Masjid