|
Kekayaan Yang Sesunggguhnya Oleh: Teten Nasrudin Miskin harta, akan membuat sulit seseorang untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi, penghidupan yang layak, jaminan kesehatan yang memadai. Miskin ilmu bisa membuat seseorang menjadi sulit untuk mendapatkan pekerjaan, minder dalam bergaul, yang pada akhirnya menjadi “seekor katak dalam tempurung”. Miskin pengalaman, sangat mudah diperdaya dan ditipu, tetapi ada yang lebih celaka lagi, apabila hati dan jiwa kita “miskin.” Kekayaan yang melimpah, jabatan yang tinggi, gelar yang berderet yang mengalahkan nama lengkapnya, tetapi kalau hati dan jiwa ini faqir dengan keyakinan akan adanya hari pembalasan, hari pertanggung jawaban semua mahluk dihadapan Kholiqnya, maka kekayaan yang melimpah, baik materi, ilmu/pendidikan, tidak digunakan sebagai jalan untuk penambah keta’atan kepada Allah, kemaslahatan ummat, tetapi justru sebaliknya menjadi pengundang murkanya Allah. Para koruptor itu bukan tidak mempunyai kekayaan, kekayaan mereka melimpah, mungkin hartanya tidak cukup untuk tujuh turunan, tapi hatinya tidak ikut “kaya” dengan keyakinan dan kepasrahan terhadap Sang Penciptanya, maka yang terjadi akibat tangan dzolimnya itu, banyak saudara kita yang kelaparan, padahal katanya alam kita kaya, tidak bisa mendapatkan pendidikan, kesehatan yang layak, padahal mereka telah berusaha. Mereka yang duduk dikursi jabatan, mereka tidak bodoh, gelar mereka segudang, pendidikan luar negeri, tapi karena jiwanya miskin dengan kekayaan hati, maka apa yang terjadi, hukum diputarbalikan demi sebuah kepentingan sesaat, yang salah menjadi benar, yang benar disalahkan.
Menurut Ibnu Qoyyim, kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati dan jiwa. Ia menjabarkan, kaya hati adalah kepasrahan dan kebergantungan mutlak kepada Allah SWT semata. Sedangkan kaya jiwa adalah keistiqomahan kepada Allah dan mengarahkan semua perkataan dan perbuatan kepada Allah SWT, disebut juga orang yang faqir kepada-Nya. Semakin faqir kepada Allah SWT, maka seseorang akan semakin kaya terhadap mahluk-Nya. Sebaliknya semakin kaya tidak membutuhkan Allah , maka ia akan semakin tergantung dan faqir terhadap mahluk.
“Wahai manusia, kamulah yang faqir kepada Allah, dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathiir:16)
Definisi kekayaan secara materi sangat mudah difahami. Demikian juga pengertin miskin secara harta, mudah dipahami. Tetapi bila keduanya berdampak kepada kemiskinan iman, kemiskinan amal kebajikan kemiskinan kesalihan, maka kaya secara materi menjadi tidak memerlukan definisi baru, kecuali sebagai kemiskinan sejati. Sebaliknya, kaya dan miskin secara materi, bila justru menjadi sumber kekuatan untuk melahirkan kekayaan iman, kekayaan kesalihan, dan kekayaan kebajikan, maka keduanya menjadi sumber kekayaan. Bahkan menjadi inti kekayaan itu sendiri. Karenanya, diluar kekayaan harta yang melimpah, harus ada pencarian makna baru dari kekayaan, dalam konteks kaya untuk modal berbuat kebaikan. Berikut, beberapa contoh dari sumber-sumber lain kekayaan itu, dalam pengertiannya yang jauh lebih tinggi dari sekedar kekayaan materi.
1. Jiwa yang ikhlas dan sabar Jiwa yang ikhlas, mengabdi kepada Allah, tulus dan sabar menjalani hidup, dalam derap semangat tanpa menghapus saat jeda, sungguh merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Kekayan jiwa, kekayaan jiwa adalah puncak dari kekayan yang sesungguhnya. Karena itulah Rasulullah menegaskan, “Sesungguhnya, yang disebut kaya itu bukan karena banyaknya harta benda. Tetapi kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ikhlas merupakan puncak pemahaman seseorang tentang hidup. Ia mengerti bahwa hidup harus mengabdi kepada Sang pemberi hidup : Allah SWT. Bahwa segala pemberian Allah, dalam bentuk apapun adalah adil. Adil, tidak saja karena setiap mahluk sudah ada rezekinya, tetapi karena jatah itu, pasti ditunaikan Allah seluruhnya. Lebih dari itu, setiap mahluk melata di muka bumi, akan bisa menyambung hidupnya, sampai batas akhir ketika ajal harus tiba. Allah SWT berfirman,
“ Dan tidaklah mahluk yang melata pun dimuka bumi kecuali Allah yang menanggung rezekinya.” (QS. Hud:6) Sementara jiwa yang sabar, akan menjalani prosesi-prosesi keikhlasan itu dalam dunia nyata, dengan penuh keteguhan. Hasilnya seorang mukmin yang berjiwa ikhlas dan sabar, akan tegar dalam menjalani hidup ini. Tidak malas, tidak pasrah secara salah,. Tidak merebut hak orang lain. Tetapi bila memang ia kaya secara materi, maka kekayaan itu diletakan ditangannya, bukan dihatinya. Tetapi ia juga mengerti etika yang harus dijaga, terhadap segala pemberian Allah. Dengan Ikhlas dan sabar, jiwa seseorang hanya akan bersandar kepada Allah. Ia berharap apa yang ada disisi Allah, daripada apa yang ada di sisi manusia. Rasa perlunya kepada Allah, jauh lebih besar dari rasa perlunya kepada mahluk.
2. Kekayaan ilmu Bentuk dari kekayaan yang lain adalah ilmu. Sumber ilmu adalah Allah. Seperti Ia telah mengajarkan kepada Adam, nama-nama seluruhnya. Tetapi Allah juga memberi kesempatan kepada manusia untuk menggali ilmu dari keseluruhan tanda-tanda kekuasaan-Nya, di langit maupun di bumi. Penghargaan Islam terhadap ilmu sangat tinggi. Karena ilmu memang kekayaan yang layak dihargai dengan tinggi. Kalaulah tak ada ilmu, niscaya dunia akan gelap. Banyak orang yang berjalan tanpa penerangan dan tanpa lampu. Dalam salah satu ayatnya Allah menyandingkan penghormatan untuk orang-orang yang menuntut ilmu dengan orang-orang beriman. Allah SWT berfirman, “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang menuntut ilu dengan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah:11) Ayat itu tidak sekedar menunjukan betapa ilmu adalah kekayaan. Tapi juga menjelaskan, bahwa ilmu harus dicari, dituntut dan didatangi. Bersyukurlah orang-orang mukmin yang ilmunya memadai sampai pada tingkat ahli. Tetapi lebih bersyukurlah orang-orang mukmin yang bisa memanfaatkan ilmunya secara maksimal, untuk meningkatkan penghambaan kepada Allah, dan meningkatkan kesejahteraan kemanusiaan. “Ilmu, adalah kekayaan yang bahkan bergantung kepadanya kekayaan harta”.
3. Anak dan keturunan yang soleh Anak-anak dan keturunan yang soleh, merupakan bentuk lain dari sebuah kekayaan. Anak-anak adalah investasi. Ia bisa menjadi investasi baik maupun buruk. Tetapi pintu utama investasi itu ada ditangan orang tua. Rasulullah Saw menjelaskan, bahwa setiap anak adalah fitrah (suci) . Orang tuanyalah yang akan menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Dalam pengertian lain, bahwa orang tua pula yang akan menentukan investasi itu apakah di jalan yang diridloi Allah atau tidak. Anak-anak yang soleh yang mendo’akan kedua orang tuanya, adalah asset daan kekayaan yang tidak tergantikan oleh apapun. Ia merupakan sumber ‘royalti’ kebaikan yang tidak akan putus bahkan ketika orang tua itu telah meninggal. Rasulullah SAW menjelaskan, bahwa “ Setiap anak Adam, bila meninggal, maka terputus amalnya, kecuali tiga perkara, sodaqoh yang kegunaannya terus mengalir, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendo’akan kedua orang tuanya “ . (HR. Tirmidi)
Tak berlebihan bila para Rasul, para nabi,selalu memohon diberikan keturunan yang shalih. Nabi Ibrahim misalnya, memohon kepada Allah “ Wahai Tuhanku, jadikanlah aku penegak solat, dan dari para keturunanku.” Maka seorang mukmin tidak boleh memandang soal anak-anak dalam sudut yang sangat sempit. Tapi dalam timbangan yang sangat besar. Bahwa mereka adalah kekayaan. Tetapi ia bisa menjadi sumber petaka, bila salah urus atau tidak diurus.
4. Menjadi Kaya dengan berinfak Paradigma lain soal kekayaan, adalah kekayaan dibalik infak daan sodaqoh yang kita keluarkan. Secara materi, orang yang mengeluarkan hartanya adalah orang yang mengurangi hartanya. Tetapi sesungguhnya, pada saat yang sama ia tengah menanam sebuah bibit yang dijanjikan Allah akan berbuah belipat-lipat. Perhatikanlah firman Allah, “ Perumpamaan yang menginfakan hartanya dijalan Allah, seperti biji benih yang menumbuhklan tujuh buah tunas. Setiap tunas mengeluarkan seratus biji. Dan Allah melipat gandakan pahala siapa saja yang Ia kehendaki, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahu.”
Seorang mukmin harus menanamkan dalam dirinya, paradigma kekayaan dibalik infak. Harta kekayaan itu sendiri bersumber dari Allah SWT. Dibalik infak dan sodaqoh itu ada berkah dan kekayaan lain yang kadang tidak bisa diperjelas dengan logika. Rasululla SAW bersabda, “Barang siapa diantara kalian bersedekah dengan senilai biji korma, dari hasil pendapatan yang baik- dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik- niscaya Allah akan menerimanya dengan Tangan kanannya, lalu mengembangkan untuk pemiliknya- sebagaimana kalian membesarkan anak kuda- hingga sedekah itu membesar menjadi gunung.” (HR. Bukhari) Ada banyak kekayaan lain selain kekayaan materi. Ini memberi setiap mukmin ruang yang lebih luas. Bahwa siapa saja bisa menjadi kaya. Bila sekedar untuk menyambung hidup, jatah rezeki yang dijanjikan Allah pasti bisa untuk menyambung hidup kita hingga datang ajal dan kematian kita. Tentu dengan usaha dan ikhtiar. Seorang ahli hikmah membagi manusia kedalam 4 (empat) kategori :
Pertama, orang kaya yang kaya Ialah orang yang kaya, baik materi, ilmu atau yang lainnya, dimana kekayaan itu bisa menambah iman dan kebahagiaan. Karena kekayaan itu dipakai di jalan kebaikan. Ia memiliki dunia di tangan kanannya, tapi tidak di hatinya. Ia mensyukuri kekayaan, hidup seimbang, dan tidak berlebihan.
Kedua, orang kaya yang miskin Ialah orang yang kaya, baik materi, ilmu atau yang lainnya, dimana kekayaan itu tidak bisa menambah iman dan kebahagiaan. Yang dipikirkan hanya bagaimana menumpuk kekayaan. Ia miskin karena tidak merasa cukup. Bahkan untuk menggunakan kekayaan itu sendiri merasa sayang.
Ketiga, orang miskin yang kaya Ialah orang yang tidak memiliki kekayaan,secara materi, tetapi ia merasa segalanya cukup. Mungkin dengan ilmunya, mungkin dengan kebersihan hati dan perangainya, ia menjadi bijak memandang harta. Tetapi ia tidak malas bekerja dan berusaha. Ia suka makan dari hasil keringatnya sendiri.
Dan yang keempat, orang miskin yang miskin Ialah orang-orang yang miskin. Miskin harta dan miskin jiwa. Dengan keterbatasan , ia justru bergelimang dengan dosa, angkuh terhadap Allah, dan bahkan menyalahkan Allah. Termasuk dalam katagori yang mana kekayaan diri kita yang sesungguhnya ?? Wallahu’alam.
|